Tampilkan postingan dengan label my story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my story. Tampilkan semua postingan

28 Oktober 2014

Selamat Jalan Hanan....


Beberapa bulan lalu saya dihubungi mama seorang gadis SMP, Hanan namanya... 
Katanya Hanan pengen banget maen rainbow loom karena bosan dirumah terus nggak bisa main.. 
Hanan divonis kanker paru oleh dokter bulan ramadhan lalu. 
Mamanya Hanan adalah teman kakak saya semasa sekolah di Aceh dulu

Berkat bantuan mbak Echi, teman saya di Jakarta, bisa juga saya belikan Hanan paket rainbow loom yang bagus dan lengkap utk dikirim ke Medan. (makasih banyak ya tante Echie..) 
Sengaja saya pesan ke Jakarta karena ingin memastikan rainbow loom yang dibeli punya kualitas yang baik dan aman untuk Hanan. Tau sendiri kan issue sekitar rainbow loom yang katanya mengandung zat karsinogenik (namun ternyata sdh banyak link yang membuktikan rainbow loom terbukti aman). Saya pun memastikan ke mama Hanan apakah ia yakin akan memberikan Hanan rainbow loom. Kak Linda, mamanya Hanan menjawab sangat yakin.

Begitu paket sampai di Medan, karena kesibukan kami masing2 kami nggak punya kesempatan untuk janjian bertemu. Akhirnya mama Hanan mengambil paket dirumah yang sudah saya titipkan. Saya pun tidak bertemu langsung dengan Hanan maupun mamanya saat itu.. Mama Hanan bilang Hanan seneeng bangeet.... 

Nggak sengaja beberapa minggu kemudian, saya bertemu Hanan dan mamanya di tempat les kumon. Benar-benar nggak janjian, biasanya Hanan les kumon agak siang sedangkan jadwal Harsya Syifa sore menunggu saya pulang kantor.

Saat ketemu Hanan malu-malu dan nggak ngomong apa-apa, ditanya bisa nggak bikin rainbow loomnya? malah senyum aja... Hanan keliatan sehat dan segar seperti nggak sakit, senang sekali melihatnya seperti anak lain yang beraktifitas layaknya anak seusianya. Saya optimis Hanan pasti akan sembuh dan baik-baik saja. Hanan tidak bicara apa-apa sampai mereka pulang naik mobil, hanya tersenyum malu. Tapi nggak lama mereka pergi, mamanya mengirimkan bbm ke saya dan bilang kata Hanan tante Ratu cantik banget..., Makasih Hanan.. Hanan juga cantik banget... 

Hanan, tante sempat dikirimin foto beberapa hasil karya Hanan sama mama via bbm, wah... Hanan pinter lho, loomband bikinan Hanan bagus-bagus banget... Ternyata Hanan jago ya bikinnya walaupun nggak pake diajarin..

Hanan, hari ini tiba-tiba tante dapat kabar kalau Hanan sudah dipanggil sama Allah SWT... Tante kaget banget... Maaf ya sayang, tante belum sempat main kerumah Hanan, Tante nggak nyangka Hanan pergi begitu cepat... padahal mama sempat cerita kalau sudah 2 minggu ini Hanan lemas banget dan mengeluh dadanya sakit... Dan kemarin juga tante liat status mama yang kangen lihat senyumnya Hanan..
Tante pikir pasti kondisi Hanan lagi drop tapi sayang tante nggak sempat nanya detail sama mama...:-( 

Hanan...tante yakin sekarang Hanan sudah bahagia disana, nggak sakit lagi.. bisa main sepuas Hanan jauh dari penderitaan dan rasa sakit...walopun harus meninggalkan mama, papa, adik dan semua orang yang mencintai Hanan... 

Kata mama Hanan nggak ngeluh sedikitpun....
Gadis kecil yang baik....
Selamat jalan ya sayang..
Semoga Hanan menjadi bidadari surga untuk papa mama nanti... 

Amiin.. YRA...

Hanan dan adiknya 

23 Agustus 2013

Hm.. Nyesel....

Pagi ini dalam perjalanan ke kantor tiba-tiba saya harus nge rem mendadak karena sebuah mobil avanza gold yang persis di depan saya tiba2 berhenti secara mendadak. Tas laptop yang saya taruh di jok belakang sampai pindah ke lantai mobil saking tiba-tibanya saya menginjak rem. Jalanan waktu itu padahal lancar dan nggak macet, karena di jalan RingRoad yang lurus ini biasanya semua kendaraan ngebut. Untung saya lagi konsentrasi penuh pas nyetir jadi sempat melihat mobil di depan saya berhenti mendadak (baca: gak lagi bbm-an #ooww...that's very bad habit bunda hehe...)

Saya sempat klakson pengendara di depan karena dia berhenti di jalur kanan secara mendadak, tapi kemudian saya lihat pengendaranya membuka kaca jendela dan mencari2 sesuatu di bawah roda mobilnya.
rupanya.......... seekor anak kucing! keciill...dan lemaah sekali kelihatannya. Jalannya terseok2 sepertinya kondisinya gak bagus atau sakit. Si pengendara yang seorang ibu2 kemudian berusaha menghindar dengan membelokkan setir ke arah kiri dan kemudian melaju kembali.

Kucing itu masih di posisi kanan jalan sekitar 50 cm - 1 meter centimeter dari median jalan.Melihat kondisinya, saya sempat berpikir untuk turun dan memindahkan dia ke median jalan yang aman. karena kelihatannya kucing ini susah utk berjalan. Duh...tapi kok saya ragu-ragu ya.. karena motor dan mobil di belakang cukup kencang dan saya sedikit ragu untuk turun di tengah jalan. Dalam beberapa detik saya bingung dan akhirnya memutuskan untuk kembali jalan. Kelihatannya motor2 di belakang sudah melihat kucing itu and berusaha menghindar juga. Mudah2an nggak bakal ada yang nbarak itu kucing deh...

Tapi setelah jalan beberapa meter saya jadi nyesal...kenapa ya tadi saya nggak berhenti sebentar untuk mindahin kucing itu ke median jalan yang aman. Toh posisi saya juga udah berhenti di tengah jalan dan mobil-mobil di belakang saya udah aware dan berusaha mengambil jalan lain untuk menghindar. Gimana kalau nanti kucing mungil itu ketabrak mobil yang ngebut....Duuh... sumpah nyesel!
Mudah2an ada orang lain berhati mulia yang menolong memindahkan kucing itu dari jalanan..atau mudah2an kucing itu sendiri akhirnya berhasil jalan ke median jalan yaa #menghibur diri

Btw sering banget deh saya ragu-ragu untuk berbuat baik secara spontan yang akhirnya berbuah penyesalan seperti sekarang ini nih...sampe kepikiran terus nyampe di kantor. Gimana dengan blogger semua? pernah ngerasain yang sama nggak seperti yang saya rasain sekarang ini ? ragu-ragu menolong akhirnya nyesal deh... Hiks...

28 Mei 2013

Well done Kid ! (Anak Kecil Penjaja Koran Part 2)

Hi all, udah lama nih belum sempat update kelanjutan cerita kisah anak kecil penjaja koran di lampu merah. Ceritanya sekitar beberapa hari setelah pertemuan terakhir saya dengan dia, saya kembali lewat jalur biasanya. Lampu merah Jl. Abdullah Lubis menuju Jl. S Parman.  Dan saya bertemu kembali dengan dia. hehe... lucu karena saya ingat pertemuan terakhir kami saat dia berteriak pada saya untuk sering sering lewat sini ya Kak. Senang ternyata dia memang merasa kehilangan saya.. Hm..kali ini saya ingin tau gimana ya reaksinya pada saat saya membeli korannya.

Saya berhenti di kemacetan lampu merah, dan dia menghampiri mobil saya dengan sumringah. Anak tersebut menyodorkan korannya dan saya tersenyum menyambutnya sambil memberikan selembar uang Rp. 1.000.- Hehe.. sengaja, pengen tau reaksinya. Dan mau tau gimana reaksinya?
Hm...Bener nih mau tau? Hehehe....

Reaksinya....... dia tersenyum sambil mengucapkan "Makasih kak" . Saya senang sekali... Saya berikan uang pas dan dia tetap mengucapkan terima kasih. Very nice....kelihatannya anak ini mulai tau gimana berinteraksi dengan seseorang yang bukan sekedar pelanggan biasa. Dia mulai pintar mengekspresikan ungkapan rasa senang dan terima kasihnya. 

Sebenarnya saya sedikit merasa bersalah menuduh dia tidak tahu terima kasih di postingan sebelumnya. Karena bisa saja kan alasan kenapa dia tidak ucapkan sepatah katapun saat saya berikan uang pas (bukannya uang lebih seperti biasanya) bukan karena dia tidak mau berterima kasih, tapi mungkin saja karena mungkin dia bingung. Ada apa dengan saya ya... kok tumben kali ini ngasih nya uang pas. Apa ada yang salah? Dan reaksi diam dia mungkin karena dia heran. bukan tidak tau terima kasih. Dan mungkin juga bingung harus komentar apa, secara dia cuma seorang anak kecil yang belum pintar berbasa basi dan masih polos.

Well apapun itu, saya bersyukur anak ini sudah belajar untuk mengekspresikan rasa terima kasihnya kepada pelanggannya dan menyadari bahwa penting menjaga interaksi dengan pelanggan setianya (halah..mikirnya jauh banget ya..kepikir juga gak kali itu anak sampe kesitu.. hehe..) Ya intinya gitu deh. Menurut saya si anak sudah mendapatkan dan belajar sesuatu dari interaksi kami.

Oh ya, Saya sebenarnya ingin mengambil foto anak tersebut, karena ada seorang teman yang penasaran ingin tahu wajah si anak. Kalian juga pasti pada penasaran kan? Hehe...
Sayang sebelum saya sempat menanyakan lebih lanjut si anak segera berlari menuju lampu merah dan duduk di sana. Well.. mungkin lain kali deh pikir saya, saya juga sebenarnya ingin tahu siapa namanya. Mungkin di pertemuan selanjutnya.

Nggak lama lampu hijau menyala dan saya melewati anak kecil tersebut, and you know what?
Saat mobil saya lewat si anak melambaikan tangannya tinggi- tinggi ke saya dan dadah dadah ke saya dengan senyum sangat lebar. Hei...I'm so surprise.....! saya pun membalas lambaian tangannya dari dalam mobil. Lucu juga melihat tingkah dia yang sangat antusias.  Okelah...mudah2an semua kejadian ini bisa menjadi modal untuk dia berinteraksi dengan banyak orang lain dengan lebih baik lagi.
Well done Kid ! :-)

Related post : http://cutmaharatu.blogspot.com/2013/03/kakak-besok-lewat-sini-lagi-ya.html

13 Maret 2013

Kakak, Besok Lewat Sini Lagi Ya...

Setelah hampir 8 bulan lebih tinggal di kota Medan, saya sudah mencoba berbagai rute perjalanan dari rumah ke kantor. Dari jalur yang macet sampai jalur tercepat. Sebenarnya cuma selisih 5-10 menit karena perbedaan di lampu merah dan apakah jalur tersebut juga dilalui oleh angkot atau tidak. Jalur yang dilalui angkot pastinya lebih macet daripada jalur lainnya. Rute terakhir yang saya lalui melewati jalur lurus jalan Abdullah Lubis, kemudian belok kiri sedikit dan belok kanan lagi dan menuju Jl. Sudirman.

Di ujung jalan Abdullah Lubis ini lah saya selalu bertemu dengan seorang anak laki-laki kecil penjaja koran. Sebenarnya saya membeli koran hanya karena kasian dengan anak kecil tersebut. Setiap kali membayar korannya saya bilang "kembaliannya utk kamu aja ya..." Awal mendengar saya mengatakan itu dia kelihatan sumringah sekali. Dia mengucapkan terima kasih sambil tersenyum senang.

Besoknya begitu lagi, "kembaliannya buat kamu aja ya..." dan dia berlari senang. Dan setiap pagi setiap kali saya melewati jalur itu, maka anak kecil itu akan berlari dari kejauhan mendekati mobil saya sambil menyodorkan koran. Bahkan tanpa perlu saya katakan lagi "kembaliannya buat kamu aja ya" maka si anak akan langsung menerima uang dari saya, tersenyum dan berlalu. Bahkan kadang-kadang saat ada penjaja koran lain yang posisinya lebih dekat dengan saya, si anak tetap berlari dari kejauhan untuk memberikan korannya pada saya. Dan tersenyum menang kepada penjaja koran lainnya yang bingung melihat kenapa saya tadi menolak untuk membeli koran nya.

Suatu hari, seperti biasa saya melewati jalur itu dan lampu merah itu. Saya melihat anak kecil tersebut berlari dari kejauhan menuju mobil saya. Saat itu kebetulan saya hanya punya uang pas untuk membayar korannya. Saya berpikir dalam hati kira-kira seperti apa ya reaksi anak ini kalau saya membayar dengan uang pas.

Dan seperti biasa, anak tersebut menyodorkan korannya ke jendela mobil saya, dan saya menyodorkan uang. Kali ini uang pas. Seribu rupiah.

Reaksinya.........
Dia diam saja dan.... tidak tersenyum seperti biasanya! Dia kelihatan kecewa.....
Oow..... terus terang saya kaget dan sedikit kecewa dengan reaksinya. Apakah karena selama ini dia berharap banyak dari saya sehingga saat saya memberinya sesuai standard dia merasa kecewa....? Apakah karena selama ini dia sudah menerima lebih sehingga merasa kecewa saat menerima sesuatu hanya sesuai standard ya? Bukankah selama ini sudah menjadi pelanggan setia nya saja adalah suatu loyalitas dari saya yang seharusnya patut dihargai dengan senyuman terima kasih darinya? Bahkan sebenarnya selama ini lebih sering saya membeli koran bukan karena saya ingin membeli, tapi karena saya tidak ingin dia kecewa. Apakah dia tahu itu ya... ? 

Ah...saya terlalu berlebihan ya.... Dia kan hanya anak-anak. Dan untuk seorang penjaja koran mungkin memang tidak selalu terbersit di benak mereka untuk mengucapkan terima kasih kepada setiap pembeli korannya. Mereka pikir antara penjual dan pembeli sama-sama butuh kok. Lagipula kok saya jadi seperti mengharapkan pamrih sih? Astaghfirullah..

Hmm...Tapi ada satu hal yang saya pelajari....Ok, setelah saya pikir- pikir itu reaksi yang wajar. Dia masih polos. Jadi dia bereaksi polos juga menunjukkan kekecewaannya. Bukankah saya dan kitapun sering berlaku sama? saat kita terbiasa menerima sesuatu dari seseorang secara berlebihan, kita lama-lama akan menganggapnya biasa saja dan anehnya kemudian kita akan merasa kecewa saat orang itu tidak lagi memberikan sesuatu seperti yang biasa dia berikan. Karena kita sudah berharap banyak dan bahkan kita menganggap itu adalah suatu keharusan. Kita jadi seperti menuntut orang itu untuk tetap memberikan sesuai apa yang biasanya dia berikan. Tidak bisakah kita tetap menerima dan mengucapkan terima kasih saat menerima sesuatu dari orang lain walaupun nilainya lebih kecil dari biasanya? Seharusnya bisa. Seharusnya kita tetap mengucapkan terima kasih dan bersyukur... tapi kita lebih sering menunjukkan kekecewaan kita saat menerima sesuatu yang tidak sesuai pengharapan kita. Ya kan..?

Jadi, manusiawi sekali kan sebenarnya apa yang dilakukan anak tersebut?

Hm... besoknya saya seperti biasa tetap normal melewati rute tersebut dan membeli koran dari anak tersebut. Kadang saya memberinya uang lebih seperti biasa, kadang sesekali saya memberinya uang pas. Dan karena itu sudah menjadi biasa anak itu tidak pernah lagi mengucapkan apa-apa, dia hanya akan mengangguk kecil dan berlari pergi. Tidak ada lagi senyum sumringah dan tidak ada lagi ucapan terima kasih dari bibirnya. Saya pun nggak boleh menuntut banyak ya...kalau menuntut namanya ngasihnya nggak ikhlas dong ya....

Suatu hari saya memutuskan untuk berganti rute ke kantor, karena saya sudah menemukan rute baru yang lebih cepat tanpa harus melewati lampu merah di jl. Abdullah Lubis itu. Lampu merah disitu sebenarnya termasuk yang lama, walaupun rutenya cepat. Kalau kebetulan dapat hijau saya bisa cepat langsung bablas. Tapi kadang saya bingung saat lampu hijau si anak kecil penjaja koran akan berteriak2 memanggil saya untuk membeli korannya dulu. Padahal nggak mungkin bagi saya untuk berhenti saat kondisi lampu hijau begitu kan...

Selain itu sebenarnya saya ingin anak kecil ini tidak terlalu berharap banyak dari saya. Saya merasa nggak nyaman setiap hari dikejar perasaan harus dan wajib membeli koran darinya. kadang-kadang di jalan sebelumnya saya ingin membeli koran dari seorang anak kecil lain (perempuan) yang tersenyum melambai lambaikan korannya pada saya. Sering saya batal membeli karena ingat anak kecil di Jl. Abdullah Lubis yang pasti akan kecewa kalau tau saya sudah membeli koran sebelumnya (pernah terjadi sekali). Pernah juga saat saya kesiangan menuju kantor, saya bertemu anak itu (bukan di lampu merah), dia melambai-lambaikan korannya sambil berteriak dari seberang, akhirnya membuat saya gak tega untuk mengabaikannya. Dan terpaksa saya meminggirkan mobil saya dan menunggu dia menyeberang (waktu itu dia digandeng seorang dewasa mungkin ayahnya yang juga tersenyum menngangguk-angguk melihat saya seolah sudah kenal dari cerita anak tersebut). Padahal saya sedang sangat terburu-buru.

Bahkan pernah dengan konyolnya saya membeli 2 koran yang sama hanya karena nggak tega mengatakan saya sudah membeli koran sebelumnya. Konyol kan...? Hehehe.... Urusan beli membeli koran ini lama-lama menjadi sebuah beban buat saya dan menjadi semacam suatu keharusan karena saya tidak ingin mengecewakan anak kecil tersebut.

Selama hampir 3 minggu lebih saya melewati jalur baru dan tidak pernah membeli koran lagi dari anak kecil di Jl. Abdullah Lubis itu. Saya jadi lebih tenang...tidak harus buru-buru menyiapkan uang untuk koran, tidak harus merasa nggak nyaman saat lampu menyala hijau dan saya belum sempat membeli korannya. Walaupun saya merasa yakin dia pasti akan bertanya-tanya kemana saya, kenapa tidak pernah lagi lewat jalur itu... hmm... biarlah, biar dia belajar sesuatu. Saya ingin dia jadi anak yang peka dan bisa mengambil makna dari apa yang saya berikan selama ini. Saya lakukan ini bukan karena masalah pamrih lho...Saya hanya ingin dia belajar sesuatu. Suatu saat nanti saya akan lewat jalur itu lagi. Sesekali.

Suatu hari... 7 Maret 2013. Pilkada Sumut. Hampir semua kantor libur atau masuk siang. Tapi saya tetap bekerja seperti biasa karena saya ada jadwal training hari itu. Kali ini karena suasana libur maka training saya mulai agak siang yaitu jam 9 pagi. Saat melewati Jalan Abdullah Lubis (belum sampai ke lampu merah ujung) ditempat biasa anak perempuan kecil  penjaja koran mangkal, saya melihat sosok yang sangat familiar. Ya, dia anak kecil laki-laki penjaja koran di lampu merah Abdullah Lubis. Mungkin saat jam segini dia dalam perjalanan pulang. 

Dia kelihatan sangat kaget dan senang melihat saya. Dia berlari kecil dengan tertawa ke arah mobil saya dan saya langsung menyodorkan uang lebih kepadanya seperti biasa. Saya menyapanya sambil tersenyum dan dia tertawa senang. Dia  kelihatan senang sekali, seperti menemukan teman lama yang hilang.

Sesaat sebelum lampu hijau menyala, anak itu setengah berlari kembali mendekati mobil saya. Kelihatannya ada sesuatu yang ingin disampaikan. Saya membuka kaca jendela mobil sambil menunjukkan ekspresi bertanya, kemudian anak kecil itu berkata sambil setengah berteriak "Kak! Kakak....Besok lewat sini lagi ya kak..." katanya sambil tersenyum dan setengah berharap. Saya tak menyangka dia akan mengucapkan itu. Saya menjawab sambil tersenyum " Iya, Insyallah yaa.."

Hmm...Semoga kamu sudah memperlajari sesuatu dari interaksi kita selama ini ya Nak...

Semoga kamu tetap menjadi anak yang selalu bersyukur berapapun anugerah dan rejeki yang kamu terima di hari itu. Dan tetap tidak lupa mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang telah berlaku baik padamu....

Salam,
Cut Maha Ratu

1 September 2012

New Activity: Nongkrong di Car Wash

ice cappucino and mie goreng..yummy!
Akhirnya...setelah hampir sebulan sejak si "putih cantik" tiba di Medan dan gak pernah dimandiin, hari ini ada juga kesempatan mampir ke Car Wash dekat rumah.

Sebenarnya malu juga tiap ke kantor mobil berdebu and kotor gitu...mana kadang tisu penuh di karpet mobil (Harsya nih hobi uwel2 tisu). Trus satpam kantor komen "Bu, mobilnya banyak tisu, udah saya bersihkan tadi" hehe.. Makasih ya Pak... Jadi malu :p.

Kata Harsya, "Bun, bener kata om Ronny (driver di Lampung) pasti ini mobil sampe Medan nanti bakal jarang dicuci ya" ups... Memang bener banget... Bunda cuma sanggup lap pake kanebo n kemoceng doang. Tadinya udah bertekad bakal rajin cuci mobil sendiri....toh dulu di Bandung jaman kuliah jg rajin nyuci sendiri kok. Tapi begitu sampe sini, ternyata aku tak sanggup...hehe...

Setelah gagal melulu karena sibuk urusan rumah dan sepanjang libur lebaran carwash tutup, Nah.. hari ini mumpung Harsya-Syifa lagi acara Halal Bihalal di sekolah dan para ortu gak ikutan, bunda ngacir deh ke CarWash dekat rumah.

Udah siap2 bakal bete, suntuk, nggak nyaman (karena pasti banyakan bapak2nya). Dan siap2 bawa Gtab buat blogwalking and ngilangin bosen, sampe lokasi eh... Ternyata ada cafenya! Bersih dan bagus lagi, lengkap dengan AC dan TV. Senangnyaaa... Kalo gini bakal betah nongkrong disini.

Ohya, ternyata ada foot message nya juga lho..
fotonya dari cafe lantai 2 :-)

Maaf, fotonya agak gelap dan jauh takut si Bapak yg lagi asyik ngobrol kaget kena blitz hehe
Harsya Syifa pose dekat si Putih yang udah bersih :-)
ini Harsya lagi teriak: "Awas mobil Bun!" *Perhatiaan..nya my lovely Boy 
Cihuiii... Kapan-kapan ajak Harsya Syifa kesini aah!

16 Agustus 2012

40 Hari Di Medan

Hmm... Nggak terasa saya udah 40 hari menjadi warga Medan.
Ya, saya sudah pindah kesini.
Lho, belum tahu? memangnya saya belum cerita ya?
Hehe..maaf....ternyata pindahan itu super ribeet.....

Semua postingan yang memang sebelumnya juga udah telat posting, sampe Medan makin telat masuk ke meja redaksi. Selain sang writer sibuk berat, editornya juga nggak ditempat, publisher and distributornya juga sibuk.. lho... iya mengelola blog itu kan berarti sang blogger yang merangkap semuanya.. Kalo sang blogger sibuk ya udah mandeg deg blognya nggak ada postingan baru :-)

Anyway selama 40 hari disini kami bertiga (saya, Harsya dan Syifa) are really enjoy our new life. Plus si mbak juga sebenarnya berempat. Hm..sebenarnya nggak really enjoy dalam arti sebenarnya... karena banyak hal-hal yang kami rindukan di kampung halaman kami di Lampung (kampung halaman saya juga kan setelah Aceh). Misalnya mudahnya kami kemana-mana disana (ada driver yang siap antar jemput), banyaknya keluarga disana, kotanya yang tidak terlalu besar, mudah mencari segala kebutuhan. Dan bagi Harsya dan Syifa tentu kehilangan teman bermain bersama sepupu-sepupunya yang selalu ramai disana.

Saya sendiri cukup lelah selama 40 hari disini. Selain urusan membongkar dan mengatur perabotan dan barang di rumah yang sangat menyita waktu, belum lagi urusan belanja, urusan TV cable, urusan voltage listrik, AC, urusan cek mobil, cuci mobil dll ....semuanya dilakukan sendirii....hadeuuh....kalau dulu pas pindahan rumah di Lampung ada ayah yang siap ngasih instruksi urusan mobil, listrik, AC dll, sekarang bunda harus turun tangan sendiri. Apalagi kami pindah bertepatan dengan bulan Ramadhan. Plus mamah juga selama sebulan ini melanjutkan terapi di Medan setelah selesai terapi di Singapore selama hampir 2 bulan. Hampir tiap hari saya dan anak-anak berbuka puasa di rumah sakit sambil menjenguk mama. Siang hari jam istirahat juga saya sempatkan menjenguk mama di RS. Bolak balik menyetir kantor-rumah-RS setiap hari lumayan bikin lelah. Sebenarnya mama sudah boleh dirawat di rumah, tapi harus ada perawat yang membantu mama kalau mau dirawat dirumah. karena saya bekerja dan tidak bisa menemani mama kalau ada keperluan.

Tapi dibalik semua kesulitan itu, Alhamdulilah bangeet...ada kakak sepupu disini (yg rumahnya kami sewa) yang banyaaak sekali membantu kami. Banyak juga teman-teman yang siap memberi info kemana saya harus menghubungi untuk urusan ini dan itu dan siap mengantar saya selama awal-awal di kota Medan sebelum mobil kami tiba dari Lampung. Masih bersyukur saya pindah ke kota Medan yang tidak terlalu asing.
Saya juga jadi sering ketemu kakak, adik dan ponakan selama sebulan ini, karena mereka selalu bergantian datang dari Aceh untuk menunggui mama di RS.

Jadi selama 40 hari disini, Alhamdulilah kami enjoy dengan kehidupan baru kami. Malah 2 minggu pertama, karena kami masih menginap di hotel, adalah masa-masa 'liburan' buat Harsya dan Syifa (padahal bundanya gempor banget bolak balik antar jemput mereka tiap hari naik taksi) Hehe...

Ok deh, sekian dulu ya laporan cerita update dari Medan. Masih banyaaaak banget cerita yang akan saya share disini. Walaupun udah lewat, tapi masa-masa menjelang pindah dan saat baru tiba di kota Medan adalah saat-saat penting yang harus saya abadikan di Blog tercinta :-) Jadi tunggu aja cerita lengkapnya yaa...

Sekarang 3 hari menjelang Idul Fitri. Karena keluarga besar di Aceh memutuskan merayakan Idul Fitri bersama mama di kota Medan, jadi yang punya blog mau siap2 jadi tuan rumah dulu yaa :-).

Selamat Idul Fitri buat semua sahabat blogger tercinta, Selamat menikmati hari kemenangan.
Mohon maaf lahir dan batin yaa...


Salam,
CMR

10 Juni 2012

Visit Medan Part 2

Selasa, 1 Mei 2012. Hari ke 4 saya di Medan. 
Hari ini saya ditemani Pak Sopir dari farmasi (duh namanya siapa kok lupa, maaf Pak padahal udah cerita panjang lebar) lanjut hunting rumah dan sekolah lagi. Kami menuju kawasan setiabudi dan sekitar jalan pasar 1. Saya masih penasaran dengan perumahan-perumahan di sekitar situ. Beberapa perumahan sekitar Jl. Asoka kami telusuri. ada beberapa rumah yang kelihatannya kosong, katanya milik tetangga sebelah. Sayang nyonya rumah yang mengontrakkannya sedang tidak di tempat dan pembantunya nggak ngerti apa-apa. Ya sudah deh...

Kemudian saya mampir ke SD Islam terpadu (SDIT) Mussabihin. Anak kakak sepupu saya yang paling kecil sekolah disini. Katanya sih cukup bagus dan tidak terlalu mahal. Sebelumnya kakak-kakaknya sekolah di SDIT Shafiyatul, sekolah Islam paling terkenal di Medan. Saya sendiri sudah pernah survey by phone dan memang harganya cukup mahal. utk biaya masuk sekitar Rp. 9 juta utk SD dan 8 juta utk TK. Walaupun biaya masuk diganti kantor tapi uang SPP perbulannya lumayan juga. Saya lebih senang anak-anak sekolah di SD yang tidak terlalu mahal. Saya pikir lebih baik uangnya disimpan utk biaya kuliah saja. Bukan berarti SD nggak penting. Kalau ada uangnya Ok aja. Tapi biar puas, survey dulu deh...kalau sudah survey belum ada yang pas dengen kriteria saya baru deh saya pikir gak ada salahnya juga. Kalau mahal tapi memang bagus, why not? Yang penting konsep sekolahnya sesuai dengan keinginan saya.
SDIT Mussabihin di Komplek Setiabudi Medan
SDIT Mussabihin terletak di dalam komplek Perumahan Taman Setiabudi Indah (Tasbi). lokasinya sangat nyaman karena di dalam komplek, begitu masuk ke area sekolah, bertemu mesjid yang sangat besar dan nyaman. Saat itu kebetulan semua murid sedang sholat zhuhur berjamaan di Mesjid. Kelihatannya saya suka dengan lingkungan sekolah ini. Gedung sekolahnya sendiri tidak terlalu besar, karena memang hanya SD saja, dari kelas 1 - 6. Kelasnya masih sederhana, bangku-bangku kayu coklat seperti SD pada umumnya. tanpa AC. Kelihatannya sekolah ini layak dipertimbangkan juga. Biaya sekolahnya termasuk sangat murah. Ruang guru bersih. Konsep kurikulum islami lengkap dengan fiqih dan tafsir Al-quran, kelihatannya cocok dengan Harsya  yang saya harapkan bisa lebih memperdalam ilmu agama di sekolah. OK formulir sudah di tangan saya. kelihatannya 70% saya OK dengan sekolah ini

Tapi saya masih penasaran kalau belum survey ke SDIT Shaffiyatul. Saya merasa bersalah juga kalau nggak coba memasukkan Harsya ke sekolah terbaik (kalau Syifa masih TK masih flexible lah dimana aja). Saya akhirnya meminta pak supir menuju ke Shaffiyatul. 

Di tengah perjalanan, Dharma, teman lama saya di aceh dulu, request add contact bbm. Kebetulan dia tinggal di Medan. Dia menanyakan saya sedang ada dimana. Saya perhatikan picture profilenya dia bersama anak-anak. Saya bertanya "Anak lo sekolah dimana Dhar?"  Dia bilang "di Al Fityan". Katanya lokasinya dekat sekali dengan daerah rumah yang akan saya kontrak (kalau jadi). Sekolahnya bagus dan tidak terlalu mahal, kata Dharma. Saya langsung penasaran dan meminta alamat lengkap dan akhirnya saya dan pak Supir langsung berbelok menuju lokasi yang ditunjuk. lokasinya dekat sekali dengan rumah yang akan saya kontrak. Jalan masuknya agak sedikit berliku melewati perumahan kampung. Saya sedikit pesimis. 

Tapi begitu tiba di lokasi...Oh My God. saya langsung jatuh cinta dengan sekolah ini! Gedungnya terlihat megah dan bagus seperti kampus. Parkirannya luas, dengan lapangan bola dan basket. Area sekolah dalam 1 lingkup pagar besar yang dijaga satpam. Gedungnya bertingkat 4, baru dan bersih. Ini yang saya cari!
Al- Fityan School Medan
Saya melangkah masuk ke gedung tersebut dan bertemu dengan seorang guru memakai baju koko dan peci haji putih. Saya masuk ruang guru dengan antusias karena ingin segera bertanya mengenai pendaftaran di sekolah ini. Pak Zulfikar (nama guru tsb) menanyakan usia anak yang akan sekolah. Saat saya bilang TK dan SD Pak Zulfikar mengatakan: "Kebetulan untuk SD sudah penuh ibu...jadi harus menunggu hasil tes gelombang 1 terlebih dahulu...kalau TK masih tersedia".... Huaaa... saya langsung patah hati hiikss..

Tapi... lho... hasil tes gelombang 1? "Pak, anak saya kelas 3, bukan kelas 1 SD. sama aja ya Pak ? "
"Oh..kelas 3? berarti mutasi ya bu? coba saya cek dulu, rasanya mungkin masih ada kalau kelas 3" Pak Zul meminta rekannya untuk mencek daftar murid kelas 3 dan jawabnya,"Ya kelas 3 masih ada"
Alhamdulilaaahhh.....saya senang sekali! Harsya... Syifaa.... bunda udah dapat sekolah yang pas untuk kalian!

Saya langsung antusias membeli formulir pendaftaran dan memutuskan tidak jadi survey lagi ke Shaffiyatul. Alhamdulilah...selesai sudah pencarian saya. Saya bisa pulang ke Lampung besok dengan lega karena urusan rumah dan sekolah anak-anak sudah OK. Mamah juga kondisinya semakin membaik. Terima kasih ya Allah...  

*Tetap masih merasa bersalah kenapa selama ini nggak berusaha survey sendiri rumah dan sekolah sehingga mamah nggak perlu ke Medan hiks.. :-(

7 Juni 2012

Visit Medan

Saya tiba di Medan hari sabtu siang tgl 28 April 2012 setelah menempuh perjalanan Lampung-Jakarta dan Jakarta -Medan. Alhamdulilah cuaca sepanjang perjalanan cukup cerah. Saya dijemput Dewi, sahabat masa SMP yang sekarang berdomisili di Medan. Kami langsung menuju ke rumah sakit tempat mama di rawat.
Bertemu Dino (teman lama yg sekarang bertugas di Medan) di bandara Polonia 
dan berfoto bersama Dewi di halaman RS 

Deg-deg an rasanya sebelum melihat kondisi mama. Berbagai pikiran berkecamuk. Saya ingat masa-masa alm. suami dirawat dulu. Saat itu semua beban rasanya ada di pundak saya sebagai istri. Semua tindakan harus saya yang memutuskan. Dan itu sangat-sangat berat. Bukan berarti waktu suami sakit dulu saya menghadapinya sendirian, Alhamdulilah keluarga suami semuanya membantu (bersyukur juga kami sama-sama berasal dari keluarga besar). Namun tetap berbeda bila yang sakit pasangan hidup, kita sebagai pasangan tentu mendapat beban mental paling berat untuk menghadapi nya.

Sedangkan saat ini saya bisa berbagi sedikit ke khawatiran dengan kakak abang dan saudara lainnya. Jadi perasaan saya sedikit lebih tenang. Walaupun sempat tersirat di hati rasa khawatir yang sangat tapi kemudian saya sadar saya tidak sendirian menghadapi ini. Beban ini bisa sedikit dibagi dengan saudara- saudara yang lain. Bersyukur sekali rasanya disaat seperti ini punya banyak saudara kandung dan ipar untuk berbagi.

Walaupun dalam suasana sedih, senang rasanya bisa berkumpul dengan kakak-kakak tercinta. Saya termasuk yang jarang kumpul sama mereka semua karena sudah merantau sejak SMA. Rasanya pengen banget ada Harsya Syifa disini. cuma mereka cucu mama yang tidak ikut ke Medan.

Diapit Adik ipar (kiri), kakak ipar (tengah) dan kakak2 tercinta di Lobby RS dalam suasana lelah dan kucel setelah seharian perjalanan plus menunggu di ruang tunggu ICU RS sampai malam :-)

Hunting rumah. Selama di Medan di sela-sela jam besuk mama di ruang ICU, saya sempatkan untuk mempergunakan waktu untuk hunting rumah dan sekolah Harsya-Syifa. Hari Minggu tgl 29 April, saya ditemani Dewi hunting rumah-rumah di sekitar kawasan Perumahan Setia Budi Medan. Saya juga dikenalkan oleh temannya kakak saya di aceh dengan Kak Nova, yang berdomisili di Setia Budi untuk menunjukkan rumah-rumah yang akan disewakan. Dunia teknologi memudahkan segalanya. Saya add pin bbm kak Nova dan mulai janjian untuk hunting rumah sore itu juga berkeliling sepanjang komplek Setiabudi. lumayan  banyak rumah yang disewakan, Tapi kebanyakan full furniture dengan harga sewa antara 35-40 juta setahun. fiuh....mahal yah. Kak Nova ramah sekali. beliau juga adalah teman kakak tertua saya rupanya. Hm..saya merasa akan betah karena disini  banyak kenalan yang baik hati. 

Kak Nova di depan rumah yang disewakan lengkap dgn perabot seharga Rp. 40jt setahun
(Khusus untuk kenalan kak Nova boleh 35 juta :D)

Rumah Sepupu yang dikontrakkan
Sampai hari ini diantara semua rumah yang saya lihat saya paling pas dengan rumah kakak sepupu saya yang memang dr awal jadi prioritas utama pilihan. Rumah ini juga sudah dilihat oleh mama sebelumnya. Memang agak kecil tapi lokasinya pas di dalam komplek, dan terutama jumlah kamar cukup banyak (4 kamar) walaupun sebenarnya saya kurang sreg karena ukuran kamar yang agak kecil-kecil jadi sempat bingung membayangkan perabotan yang harus di tata.  Selain itu saya sebenarnya ingin halaman yang cukup besar seperti rumah kami di Lampung, agar Harsya-Syifa bisa bebas berenang di kolam plastik di halaman. Tapi...hm...oke lupakan taman... karena sepertinya sulit sekali mencari rumah dengan taman atau halaman dengan harga sewa 20 jutaan. Kecuali mungkin lokasinya bukan di komplek. Hmm... cukuplah hari ini sudah ada sedikit bayangan calon rumah yang akan ditempati

Hunting Sekolah. Hari Senin, 30 April, Hari ke 3 saya di Medan. Rencana hunting sekolah Harsya dan Syifa. Hari ini saya diantar oleh sopir dari salah satu perusahaan farmasi fasilitas dari abang ipar saya yang dokter. Setelah jam besuk saya menjemput abang ipar saya itu dulu di bandara Polonia, kemudian baru  saya mulai hunting sekolah bersama pak Sopir. Tujuan pertama adalah Namira Islamic School. Sekolah ini lokasinya dekat dengan perumahan yang akan saya sewa. Banyak teman-teman yang berdomisili di Medan (kenal via FB dan dikenalkan via bbm oleh teman lainnya) yang anaknya bersekolah disini. Sebelumnya saya sudah survey tentang sekolah ini dari mereka dan melalui internet. mama juga sudah kesini sebelumnya dan sudah berbicara langsung dengan guru di bagian pendaftaran. 
Namira Islamic School
Lokasi Sekolah di pinggir jalan, masuk ke dalam, tampak anak-anak berlarian usai jam sekolah. Wajah anak-anak terlihat cukup terawat dan bersih (hehe...penting nih tahu kondisi teman sekolahnya seperti apa). Saya langsung celingak celinguk melihat salah satu ruangan kelas. ruangan terlihat besar dan luas, Ac ada, tapi bangku2 terlihat berantakan dan lantai agak berdebu. Apa karena saya datang jam pulang ya jadi terkesan berantakan? Tidak tersedia locker untuk masing2 murid di dalam kelas seperti sekolah Harsya sekarang. .

Seorang anak perempuan yang cantik menyapa saya dengan ramah, "Nyari siapa tante? "  
"Eng....ruang gurunya dimana ya dek?" tanya saya. Padahal saya masih ingin celingukan melihat isi kelas itu. Dia menunjuk ramah ke ujung bangunan. "Disitu tante".

Saya melangkah ke ruang guru di bagian ujung gedung. Hm..ruang gurunya juga tidak serapi ruang guru sekolah Harsya sekarang juga ya.. Setelah bertanya soal biaya sekolah dll (yang sebelumnya juga sudah saya ketahui dari telpon) saya menuju TK dan Play Group yang bangunannya persis di depan SD. Guru TK nya sangat ramah. Untuk biaya dan kurikulum sekolah sebenarnya saya cukup sreg dengan sekolah ini. Biaya nya masih sangat terjangkau dan jam sekolah disini tidak sampai sore. Saya memang mencari sekolah yang tidak terlalu lama jam belajarnya. Karena khawatir tipikal Harsya yang males berlama-lama di sekolah. Sayang saya sedikit kurang sreg dengan suasana lingkungan sekolahnya. Halaman luas sekolah posisinya agak di belakang dan terlihat secara keseluruhan kurang menyatu . Entahlah saya merasa kurang sreg saja. Saya senang dengan sekolah yang ada lapangan besar di tengah-tengah bangunan sekolah. 

Hari ini karena saya hanya sempat ke Namira Islamic School saja, setelah itu karena sudah sore saya kembali ke RS untuk menunggui mama di ruang tunggu ICU RS. Hm...suasana ruang tunggu ICU RS ini sungguh tidak bersahabat. Tidak ada sama sekali  AC di ruangan ini, padahal banyak sekali keluarga pasien duduk menunggu beramai-ramai disini. Saya sampai bermandikan keringat saking gerahnya. Kalau hari Sabtu kemarin kami masih bisa 'ngadem' sebentar di ruang poli yang ber-AC (itupun hanya sampai siang setelah itu poli dikunci) atau di ruang lobby RS. Kalau hari minggu ini tersiksa banget karena poli tutup dan lobby depan juga tidak menghidupkan AC saat hari minggu. Mantap banget kan.. hehe...satu-satunya tempat ngadem paling nikmat adalah di mushola yang dingin dan sejuuk.....karena AC nya full dan ruangan mushola tertutup karpet tebal yang adem. Tapi sayang dilarang tidur di mushola  hehe:-) 

Menurut dokter mamah masih harus dirawat di ICU sekitar 1 minggu agar kondisinya lebih stabil. 
To be continued...

6 Juni 2012

Kita Bisa Bila Terpaksa

Setelah melewati hari-hari di bulan ini dengan perasaan campur aduk..
Sempat juga hari ini saya tuliskan di blog apa yang terjadi pada saya hampir sebulan ini sehingga blog tidak sempat saya update. 
May is coming....
Sebenarnya bulan ini adalah bulan yang paling mengharu biru buat saya. Banyak episode penting dalam hidup saya terjadi di bulan ini. Mulai dari hari pernikahan kedua orang tua  43 tahun yang lalu, hari saya diterima bekerja dan memulai karir saya di perusahaan saya sekarang 12 tahun yang lalu, hari dimana ayahanda tercinta meninggal dunia karena ditembak orang tak dikenal 11 tahun yang lalu, dan hari dimana suami tercinta akhirnya harus menyerah dengan penyakitnya dan akhirnya meninggalkan saya 1 tahun yang lalu... semua terjadi di bulan May.

Selain moment penting dan merubah sejarah hidup saya itu, pada bulan may juga adalah hari ulang tahun ibu saya, kakak tertua saya, keponakan saya, juga hari meninggalnya kakek dan ayah mertua saya.

Beberapa hari menjelang bulan may datang...perasaan saya sedikit campur aduk, ada perasaan hampa dan sedih. Mungkin terbawa memory karena teringat dengan moment kehilangan dua orang tercinta di bulan ini. Dan terutama menyadari bahwa saya sudah kehilangan belahan jiwa hampir setahun lalu.
Rasanya cepat sekali waktu berlalu...

Ditengah perasaan campur aduk ini tiba-tiba jumat siang tgl 27 April saya dapat kabar mengejutkan.
Mama saya terserang stroke di Medan!

Ya Allah Maa.... stress saya mendengarnya.
Ada rasa penyesalan menyeruak di hati. Mama ke Medan dalam rangka ingin survey rumah dan sekolah untuk saya dan anak-anak yang akan segera pindah bulan Juni ini. Selain itu juga membawa tante yang sudah lama ingin berobat ke Medan sekalian mama juga ingin mengurus tanah keluarga disana. Mama juga punya rencana berangkat umroh sekitar bulan Juni karena itu beliau ngebut ke Medan walaupun sebelumnya mama baru saja 3 hari tiba dari Jakarta. Pasti beliau capek sekali dan akhirnya darah tingginya tidak terkontrol.

Saya langsung memutuskan untuk berangkat ke Medan menjenguk mama. Padahal rencana saya minggu ini adalah minggu tenang saya utk mempersiapkan materi training di bulan May ini dan sekaligus mempersiapkan acara peringatan 1 tahun alm. suami. Tapi mama lebih penting. Abang tertua sudah duluan berangkat jumat sore itu juga. Sedangkan kakak adik ipar dan keponakan - keponakan besok pagi-pagi sekali menyusul dengan pesawat pertama dari Banda Aceh. Saya sendiri berangkat dengan pesawat pagi dari Lampung dan transit di Jakarta dahulu untuk kemudian lanjut penerbangan ke Medan. Hanya adik saya yang bungsu yang bertugas di Kalimantan yang menyusul hari Minggu, karena dia sedang interview kerja dan harus ikut Psiko test pada hari Sabtu itu.

Saya bersyukur mama hanya terkena stroke ringan dan masih sadar dan bisa berkomunikasi dengan baik, hanya kondisinya sangat lemah sehingga mama tetap perlu mendapatkan perawatan di ICU agar lebih intensif.

Selama beberapa hari saya berada di Medan saya mendapatkan banyak sekali insight. Saya menyadari bahwa selama ini sebenarnya banyak hal yang seharusnya bisa kita lakukan tapi tidak kita lakukan karena banyaknya alasan dari dalam diri kita sendiri.

Contohnya keberangkatan saya ke Medan. Sudah lama teman-teman menyarankan saya untuk menyempatkan diri datang ke Medan untuk survey langsung rumah dan sekolah anak-anak. Tapi saya selalu excuse karena saya pikir saya benar-benar nggak ada waktu lagi untuk itu. Saya harus persiapkan training, harus persiapkan acara 1 tahun almarhum ayah, harus urus bank, harus packing untuk pindahan rumah, harus ini harus itu dan lain lain dan lain lain...

Saya cuma mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari teman, keluarga, google search untuk mencari sekolah dan rumah.  Padahal diluar itu semua, saya hanya malas kalau harus jauh-jauh terbang ke Medan. Kalau nggak terpaksa rasanya malas harus berpergian jauh naik pesawat. Terlalu banyak kekhawatiran dan excuse yang saya ciptakan sendiri.

Tapi ternyata dalam keadaan terpaksa seperti ini, saya bisa memutuskan untuk berangkat tanpa banyak pertimbangan. Saya kesampingkan rasa khawatir saya untuk bisa melihat kondisi mama secepatnya. 4 hari saya di Medan, saya kembali hari Rabu 2 May ke kantor dan persiapkan training hanya dalam 3 hari. Sebelumnya untuk materi training saya delegasikan ke admin saya untuk mencopy semua materi. Saya edit soal-soal test training secepat mungkin. Ternyata tidak butuh waktu lama.

Sedangkan untuk persiapan peringatan 1 tahun alm. suami, semua dipersiapkan kakak ipar saya, mulai dari tarub (tenda), katering sampai undangan. Semua bisa berjalan dengan normal sesuai rencana. Dan acara pengajian berlangsung lancar hari Sabtu 5 May 2012 lalu.

Kami 6 orang kakak beradik yang selalu susah untuk liburan atau kumpul bersama karena kesibukan masing-masing, ternyata juga bisa berkumpul dalam kondisi darurat. Bahkan ipar dan keponakan semua bisa berkumpul walaupun bergantian (kecuali Harsya dan Syifa)

Ternyata semua bisa kita lakukan bila kita terpaksa...
*Get well soon Mom..."

ps: Anyway semua cerita  ini belum berakhir disini. Tunggu postingan selanjutnya ya

19 April 2012

Foto Lucu Yang Berkesan

Baca postingannya Muthia soal perhelatan Give Awaynya Ocha dengan tema foto ala backpacker hari ini, saya baru ingat lagi, kalau saya kan pengen ikutan GA nya Ocha. Waktu awal Ocha posting soal GA itu saya udah rencana mau ikutan, soalnya naksir sih sama hadiah bukunya hehe...tapi sedikit ragu-ragu, soalnya saya cuma punya pengalaman keluar negeri dua kali, yaitu saat bolak balik ke Singapore menemani suami berobat dan saat menunaikan ibadah Haji tahun 2008.

Karena judul perjalanan nya bukan perjalanan senang-senang atau liburan, jadi saya nggak begitu yakin bakal ada foto yang aneh, lucu, kocak yang sesuai dengan syaratnya Ocha.. Jadi saya tunda deh ubek-ubek fotonya. Nah.....hari ini pas baca postingan Muthia, saya baru ingat lagi, "Oh iya ya,saya mau coba ikutan juga deh ah..."

Bongkar-bongkar deh  file foto Singapore dan Haji, akhirnya saya ketemu 1 foto yang moment nya lucu banget! (menurut saya hehe...) Waah semangat nih mau ikutan!

Ini dia fotonya....:

Foto ini kejadiannya saat di kota Mekkah sedang sangat padat karena setelah puncaknya ibadah Haji. Sepulang dari Arafah, kota Mekkah sangat padat dan kejadian ini adalah sepulang kami menunaikan shalat Isya di Masjidil Haram. kami tidak dapat bis sama sekali, padahal jarak pondokan kami cukup jauh, yaitu 12 kilometer dari Masjidil Haram.  Sudah berjalan beberapa kilometer tapi semua kendaraan penuh. Akhirnya kami inisiatif untuk stop mobil box (yang biasa dipakai untuk angkut kambing atau domba), setelah nego harga dengan supirnya, naiklah kami semua tumplek-tumplekan ke dalam mobil box itu.Total sekitar 11 orang. Yang kebagian duduk di jok depan hanya suami saya (karena kondisi paska operasi) dan seorang nenek anggota rombongan. Yang lainnya ya duduk di box belakang mobil begitu aja! hehehe ....sepanjang perjalanan kami tertawa-tertawa seru. Malu juga sih...karena banyak mobil-mobil mewah sepanjang jalan, bis-bis berisi begitu banyak jamaah, tapi kok ya kami naik mobil box pengangkut kambing!  Nasib oh Nasiiib......

Mana pake acara macet total lagi, Ada kira-kira 30 menit mobil dlm posisi berhenti seperti ini. Makanya kami sempat foto-foto pake kamera saya hehe....ini momennya waktu sang supir sedang turun karena macet total. Kami sempatkan deh foto moment lucu ini. Seru juga sih kalau diingat-ingat. Hihihi....

Begitu jalanan sepi sang sopir ngebut sampai kami harus berpegangan kuat, saya ingat sepanjang perjalanan wajah saya terterpa angin yang begitu kencang, merasa nelangsa tapi seru juga... :-) apalagi waktu belok di tikungan, kami harus berpegangan kuat karena sang sopir sepertinya nggak sadar deh kalau yang ada di belakang itu manusia bukannya kambing! xixixi.....pengalaman seru buat kami semua.

Anyway, tau nggak, setelah menemukan foto ini saya baru sadar kalau ternyata GA nya Ocha itu sudah ditutup pada tanggal 18 April kemarin! Huaaaa...jadi saya nggak bisa ikutan deh! ... hiks... Tapi berhubung saya udah keburu nemukan foto berkesan ini, ya udah deh tetap saya posting juga... :-)


p.s: Sst... Ternyata GA nya diperpanjang sampai 21 April dan saya menang! Alhamdulilaaah... :-)

16 April 2012

SIM



Ini sebenarnya cerita Minggu kedua bulan Maret. Tapi yah biasalah.. baru sempat diposting sekarang hehe..

Ceritanya  SIM saya sudah berakhir masa berlakunya sejak 16 Maret 2011 lalu, dan karena tahun lalu sibuk  dengan urusan RS, ya saya nggak ada waktu dan nggak  kepikiran untuk memperpanjang SIM. Yang kebayang bakal ribet pasti urusannya. Lagipula jarang-jarang ini saya nyetir mobil sendiri kecuali weekend. Dan jarang ada razia kendaraan roda 4 juga selama ini.

Hm...sebenarnya pernah juga sih sempat hampir ditilang sama Pak polisi karena salah jalan nyelonong masuk jalan verboden (1 arah), mana saya pake acara ngaku-ngaku nggak tahu jalan karena nggak tinggal di Lampung (kebetulan plat mobil BG - Palembang). 

"Lho tapi ini KTP nya kok alamat Lampung bu?" (hadoh.....tepok jidat!) 
"Iya alamatnya aja pak yang Lampung, tapi sering tugas di Palembang..." deeh...ngeles aja 

"kenapa nggak perpanjang SIM bu? 
"maaf Pak, lupa belum sempat..." 
"Kerja dimana Bu?"
"Di XL Pak.."
"Oh yang dekat Gelael situ ya?"
"Iya Pak, kalo di Lampung disitu kantornya" (masiih..aja berusaha ngeles kerja bolak balik ke Palembang)
"suaminya kerja dimana? 
"udah meninggal Pak.. " apa karena itu dia jadi trenyuh ya.... hm.. Tapi kayaknya nggak juga sih.. soalnya masih banyak pertanyaan berikutnya.

Atau polisinya mendadak nggak jadi nilang karena saya ngaku masih sodaraan sama salah satu petinggi Polda Lampung sini ya..? (kayaknya sih memang lebih condong krn yang kedua ini deh..... maap, bukan contoh yang baik) *nunduk-nunduk

Yang jelas ngerasa nggak enak dan merasa bersalah juga sih...sampai pas dia kembalikan SIM saya, saya cuma bisa bilang " Makasih ya Pak....Maaf yaaa  Pak...” Sambil nyengir  salah tingkah :-)

Nah... pengalaman itu jadi lumayan bikin trauma juga sih kalau liat polisi. Tapi ya tetap aja males mau perpanjang SIM kalau nggak terpaksa. Tapi Berhubung tgl 16 maret besok udah hampir setahun dan kalau lewat setahun saya kudu ikut persyaratan bikin SIM dari awal lagi, maka bela-belain lah saya urus perpanjangan SIM ini.

Ternyata oh ternyata..mudah banget!
saya tinggal datang ke salah satu mal, disana sudah ada ruangan khusus layanan perpanjangan SIM. Tinggal membawa copy sim lama 2 lbr, copy KTP 2 lbr dan surat keterangan sehat dari dokter mana saja 2 lbr. Just as simple as that!

Sampai sana saya tinggal isi formulir, bayar Rp. 75.000 utk SIM A, foto sebentar and jadi deh! 

Kalau disini dialog yg terjadi lain lagi:

"Cut Maha Ratu.. orang Bali ya bu?"
"Bukan Pak, orang Aceh.. " sambil senyum, soalnya sering juga yang nanya begini
"Pantesan ya...orang Aceh itu memang cantik2 ya bu"
"Oh iya ya Pak.. hehe....." (salah tingkah)
"Kerja dimana bu?"
"Di XL Pak"
"Kalau suami kerja dimana bu?" 
"Notaris Pak ,di Lampung Selatan" (biar nggak panjang)

Untung sebelum polisinya nanya-nanya lagi giliran saya dipanggil untuk foto. Hehe...
Selesai itu udah deh. beres. SIM langsung jadi. Kalau tau gini sih dari dulu aja perpanjang SIM, kan nggak perlu deg deg plas kalau ketemu Pak Pol hehehe...


6 Oktober 2011

Another Storm or...

26 Sept 2011, Senin menjelang sore..Manager saya, Nadra, mengirim bbm, isinya kemungkinan dalam waktu dekat saya segera harus pindah ke Medan. Seharusnya VP (Vice President) meminta saya pindah October ini, tapi Nadra meminta waktu sampai November. Dan ini adalah assignment.

November? Tapi ini sudah bulan September akhir…oh God..

Saya sebenarnya tidak terlalu kaget dengan keputusan ini. Dari awal saya ditugaskan di bagian Training Specialist atau CS Development sejak kira2 setahun lalu, posisi saya memang harusnya ada di kota Medan di Kantor pusat Regional utk wilayah West (Sumatera Area) . Tapi Perusahaan memberikan kebijaksanaan kepada saya utk tetap stay di Lampung karena kondisi keluarga saya yang tidak mungkin pindah ke Medan (Saat itu suami masih kerja seperti biasa walaupun dalam kondisi berobat).

Persoalan pindah ke Medan ini sudah menari2 di benak saya sejak setahun lalu…dan baru sedikit mulai serius saya pikirkan setelah bulan Mei kemarin… walaupun dalam hati saya jawabannya 75% saya tidak siap.

Sekitar bulan November 2010, Saat saya bertugas 10 hari di Medan, saya bertemu dengan VP saya yang sangat baik hati dan care. Sikapnya sebagai atasan yang rendah hati dan welcome selalu membuat saya salut. Pak Agus Simorangkir namanya.

Beliau waktu itu berkata, “kenapa kamu tdk pindah ke Medan saja, disini kamu lebih mudah mengobati suami, jarak Medan-Penang kan lebih dekat drpd Lampung-Singapore. Biaya berobat ke Penang pun lebih murah daripada di Singapore” .

Waktu itu saya sampaikan tidak mungkin pindah ke Medan karena kami tidak punya keluarga dekat yang bisa kami titipkan anak-anak kalau kami ke Singapore, dan lagipula suami saya masih punya aktifitas kerja di Lampung. Saat itu Pak Simo tidak memaksa, walaupun saya tahu sebagai atasan beliau bisa saja memaksa saya utk pindah ke Medan dgn alasan profesional. Tapi beliau tidak lakukan itu. Terima kasih atas pengertiannya Pak..

Akhir Mei 2011, Kira2 dua minggu setelah saya kembali beraktifitas normal sejak suami meninggal, Manager Regional Lampung Area, Mas Standish, memanggil saya keruangannya. Beliau baru saja kembali dari meeting di Medan dengan seluruh Management dan salah satu Direktur perusahaan kami dari Jakarta. Beliau kembali menanyakan kemungkinan saya utk pindah ke Medan… Rupanya saat meeting koordinasi di Medan, Direktur mempertanyakan posisi saya yang ditempatkan di Lampung, bukan di Medan. Saat itu Pak Simo mem- back up saya, namun beliau juga berkata akan segera memikirkan kemungkinan saya utk pindah ke Medan.

Saya bingung… baru 2 minggu dlm kondisi ditinggal suami. Tentu saya belum siap utk semua perubahan ini. Jadi saya jawab, saya tidak punya keluarga dekat di Medan yang bisa diajak tinggal dirumah. Saya bingung harus menitipkan anak-anak pada siapa kalau saya keluar kota, saya tidak berani meninggalkan mereka berdua hanya dengan pembantu saja. Bagaimana kalau ada apa-apa dengan anak-anak.
Dan Alhamdulilah lagi-lagi management tidak memaksa… hanya memberi wanti-wanti, bahwa suatu saat saya harus mulai bersiap2 karena kemungkinan saya tetap akan diminta ke Medan. Begitu juga yang disampaikan Nadra beberapa waktu kemudian saat ia berkunjung ke Lampung.

Dan sekarang…hari ini…

Tidak ada lagi jawaban tidak. Ini adalah assignment. Perintah. Artinya bila saya menolak utk pindah ke Medan, maka saya harus mencari posisi lain di divisi lain agar bisa tetap ada di area Lampung. Pilihan sulit….saya suka sekali dengan pekerjaan ini. Bahkan saya mulai menemukan passion disini. Menjadi trainer adalah hal menarik yang baru saya pelajari. Kalau saya harus ke divisi lain, belum tentu saya enjoy dengan pekerjaan itu. Dan apakah divisi lain juga bisa menjamin saya tidak dipindah ke kota lain?

saya stress sekali… Bahkan mata saya berkaca-kaca di meja kerja saya menahan tangis.
I think maybe this is another storm in my life….

Nadra sudah menyampaikan dengan bahasa yang sangat hati2 kepada saya, karena dia tau pasti saya akan sulit menerima. Ya memang ini sulit sekali….. bukan untuk saya, saya tidak ada masalah dengan kota Medan. Saya punya banyak sahabat sejak SMP yang kebetulan tinggal disana. Saudara juga sebenarnya ada beberapa. Saya yakin saya akan betah di Medan.

Tapi bagaimana dengan Harsya dan Syifa? Saya tidak tega mereka harus jauh dari lingkungan masa kecil mereka. Jauh dari sepupu-sepupu, om-tante yang selama ini selalu hadir di tengah keluarga kami. Di Medan nanti mereka pasti kesepian sekali, Tidak ada sepupu dan keluarga dekat. Baru saja ditinggal ayahnya, mereka sudah harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Pasti mereka akan terguncang.

Belum lagi siapa yang bisa saya andalkan bila saya tugas keluar kota berhari-hari. Selama ini di Lampung saya sudah sangat nyaman. Anak anak tidak pernah kesepian. Keluarga suami semua selalu siap membantu.

Dan… saya akan sangat jauh sekali dari alm. suami… saya tidak bisa sering2 berziarah ke makamnya.. hikss…

This is just too soon for me.. I’m not ready to change my life yet..
Oh God what should I do…
*********
26 Sept 2011, Malam hari

“Bunda, bunda kenapa..?” 
Harsya dan Syifa heran melihat raut wajah bundanya yg dari tadi bingung dan muram. Hmm… Bunda sedang bingung nak…
“ Nggak ada apa apa ….”
Semalaman saya tidak berhenti memikirkan masalah ini. Bingung. .

Apa sebaiknya saya pindah saja ke divisi lain dulu, paling tidak sampai anak-anak sdh agak besar dan saya sdh lebih siap utk hidup mandiri? Walaupun itu artinya saya harus rela melakukan pekerjaan baru yang sepertinya tidak sesuai dengan minat saya? Tapi saya nggk boleh cengeng kan..mungkin saya bisa mencoba. Siapa tahu hal baru itu tidak sesulit yang saya bayangkan.

Atau apa saya coba mencari lowongan di perusahaan lain? Siapa tahu ada posisi yang lebih pas dengan minat saya. Atau mungkin sebaiknya saya buka usaha sendiri saja agar tidak tergantung dengan perusahaan? Bukankah banyak orang yg berhasil dengan berani keluar dari zona nyamannya dan ternyata sukses dengan usaha nya sendiri?

Ah..Tapi untuk single parent seperti saya rasanya terlalu spekulasi utk saat ini. Rasanya pasti berat kalau memulai suatu usaha baru dalam situasi seperti ini. Kalau nggak mau dibilang nekad.

Lagipula saya sudah bekerja di perusahaan ini selama 11 tahun. Semua dimulai dari bawah, saya sudah mendapatkan salary yang cukup lumayan dan berbagai fasilitas kesehatan dijamin oleh perusahaan. Saya enjoy sekali dengan pekerjaan saya. Sayang sekali rasanya kalau semua ini saya tinggalkan hanya karena saya takut utk memulai hidup baru di kota dan lingkungan yang baru..?

Saya harus berani. Saya kan tidak punya pilihan untuk berhenti bekerja seperti teman2 lain yang posisinya harus dipindah divisi ke luar kota sehingga memutuskan keluar dr perusahaan. but me? sebagai orang tua tunggal saya harus tetap berjalan. Saya harus berkarir disini, mungkin ini saatnya saya utk berkembang. Keluar dari zona nyaman saya di Lampung. Mungkin inilah saatnya saya pindah ke kota yang lebih menjanjikan karir utk saya.

Tapi bagaimana dengan anak-anak? Apa anak-anak saya tinggal di Lampung saja ya? atau……….. di Aceh? Tiba-tiba terbersit sebuah ide cemerlang..

Ya…. Kalau saya khawatir anak-anak di Medan kesepian, tidak ada yang mengawasi, Kenapa tidak saya titipkan saja anak-anak di Banda aceh dengan mama dan kakak2 saya? Dirumah mama ada kakak saya dan anak2nya. Harsya pasti senang sekali serumah dengan Popon, abang sepupunya. Syifa juga pasti senang ada Fasya kakak sepupunya yg usia nya cuma selisih 2 th. Dan yang terpenting Banda Aceh kan tidak jauh dari Medan. Mungkin saya bisa pulang setiap 2 minggu sekali ke Banda Aceh untuk menengok anak-anak…

Tapi…kasian mereka harus kehilangan kasih sayang saya, setelah baru saja kehilangan ayahnya. Apa ini tidak terlalu berat buat mereka ya... Tapi bukankah banyak ibu-ibu lain yang juga harus berpisah dengan anaknya karena tuntutan pekerjaan.?

Ah, mereka pasti bisa. Mereka akan mengerti selama saya bisa menyampaikan dan memberi pengertian kepada mereka. Mereka bukan anak-anak cengeng. Lagipula ini mungkin tidak berlangsung seterusnya. Kalau saya sudah mantap di Medan, saya bisa bisa boyong mereka kesana.

Ah tiba-tiba saya menjadi begitu bersemangat…
Maybe this is not a storm, maybe this is an opportunity!

Esoknya saya menelpon mama, dan beliau antuasias sekali. Tapi beliau tidak setuju anak-anak dititipkan di Aceh. Mama Khawatir kalau mereka sering kangen atau saya kangen. Dan mama juga tidak mengijinkan saya tinggal sendirian di Medan.

Mama malah menyatakan akan ikut saya pindah ke Medan. What? Really? Wah….saya senang bangeet… tapi apa mama yakin? Memang dulu di bulan Juni mama juga sempat bilang kalau saya dipindahkan ke Medan mama siap menemani saya. Tapi saya pikir ah ..kasian mama. Beliau kan sdh punya kehidupan yang nyaman di kota Banda Aceh. Semua relasi dan kehidupannya ada disana.

Tapi mama meyakinkan kalau beliau tidak ada masalah sama sekali. Toh Medan dan Banda Aceh juga dekat. Lagipula sudah lama beliau ingin membuat rumah di Medan untuk tempat liburan keluarga.

Thanks Allah…
Saya senang sekali, terima kasih Ma.. Mama membuat semua ini mudah buat saya. Terima kasih Allah sudah membukakan jalan untuk saya..

Sekarang tinggal bagaimana menyampaikan ini kepada ibu mertua…
Doakan ya semoga keputusan saya pindah ke Medan adalah keputusan terbaik untuk masa depan saya dan anak-anak. Amiin…

** Ayah, bunda minta ijin membawa anak-anak pindah ke Medan ya… I hope you don’t mind..

21 April 2011

Never leave your child alone in the car

Kemarin sore baru saja saya melihat  dengan mata kepala sendiri, sebuah mobil yang sedang parkir tiba-tiba bergerak maju sendiri, menabrak sebuah motor dan nyaris menabrak gerobak roti bakar. Dan ternyata….didalamnya ada seorang anak kecil berusia sekitar 1,5 tahunSendirian! Unbelievable! Kemana orangtuanya? Ckckck…bagaimana bisa anak sekecil itu berada di mobil itu sendirian? 

Sore tadi.. pulang kantor seperti biasa Harsya dan Syifa menjemput saya pulang. Berjalan beberapa meter dari kantor Harsya merengek minta dibelikan roti bakar. Oke deh..kebetulan saya juga lapar.

Parkirlah kami di pinggir jalan, tidak jauh dari gerobak roti bakar di depan deretan ruko-ruko dekat kantor saya. Kami parkir persis di sebuah restoran yang rasanya baru buka beberapa bulan. Di depan restoran tersebut parkir 2 mobil. Satu mobil hitam dan sebuah mobil panther warna merah. Yang ternyata milik pemilik restoran baru tsb. Tidak lama kami parkir mobil hitam tersebut keluar, karena posisi kami menghalangi jalan mobil tsb, supir saya memundurkan posisi mobil sedikit ke belakang.

Biasanya yang saya lakukan kalau sedang menunggu begini, apalagi kalau bukan bbm-an, baca email atau browsing via blackberry. Tapi karena sore itu BB saya mati total kehabisan battery, jadi saya menunggu sambil ngobrol dengan Harsya-Syifa dan memperhatikan sekeliling. Tiba-tiba…..mobil panther merah yang sedari tadi parkir di dekat kami bergerak maju perlahan. Perlahan sekali…

Saya pikir , oh mungkin mobil ini juga mau maju. Saya perhatikan jarak untuk keluar masih cukup karena posisi mobil saya sudah sedikit mundur dari posisi sebelumnya.  Tapi kok… mobil ini bergerak agak aneh ya….? gerakannya melenceng ke kanan, seperti tak ada yang mengendalikan…

Benar saja makin lama makin maju tak terarah ,saya langsung berteriak pada supir saya yangberdiri di depan gerobak roti bakar membelakangi mobil tsb dan sebuah motor. “Ron! Ronny! Itu.. itu mobilnya jalan sendiri, tahan! 
Supir saya kebingungan dan segera menahan lajunya mobil tsb, tetapi karena posisi parkiran tsb sedikit menurun, dia tidak kuat menahan mobil tsb sendirian.  Untunglah tukang roti yg sdg pergi mencari kembalian segera datang orang-orang sekitar situ juga ikut membantu. Sehingga mobil tsb hanya sempat sedikit menabrak bemper motor di depannya, dan beruntung bisa segera dihentikan sebelum menabrak gerobak roti bakar yang hanya beberapa meter di depannya.  Dan  yang lebih mengerikan lagi kalau tidak dihalangi bisa meluncur ke jalan raya di depannya!

Tiba-tiba beberapa penolong menunjuk-nunjuk ke dalam mobil, Ternyata di dalamnya ada seorang anak kecil. What? Jadi mobil  itu digerakkan oleh anak tsb? Pintu mobil tidak bisa dibuka.  Tidak lama keluar pemilik ruko yang mendengar suara ribut2. Seorang bapak setengah baya keluar sambil menenteng kunci mobil dan marah-marah “ Heran! anaknya ada dimana, kok bisa nggak tau!” mengomel kepada ibu si anak yang mungkin cucunya.

Disusul dengan seorang ibu muda belia yang bergegas menarik anak tsb keluar dari mobil. Saya tercengang melihat anak yang ditarik ibunya dengan kasar ke dalam rumah itu masih sangat kecil sekali. Mungkin usianya baru 1,5 tahun!

Tadinya saya pikir seorang anak kecil menyusup ke dalam mobil sewaktu mobil sedang parkir. Tapi bagaimana mungkin anak sekecil itu membuka pintu mobil sendiri dan naik ke dalam mobil. Pasti dia ditinggalkan orang tuanya di dalam mobil. Mungkin karena tertidur atau bagaimana entahlah. Saya kira mereka bersiap-siap meninggakan ruko/restorant tsb dan si kecil dibiarkan terlelap di dalam mobil. 

Yang bikin sedikit geram,si ibu menarik tangan anaknya dengan kasar seolah-olah  menyalahkan sang anak  atas “kebandelan’nya memainkan persneling, rem tangan atau apapun itu sehingga mobil bisa bergerak maju. Tapi mana mungkin anak tsb kuat ya? sampai sekarang saya masih bingung. Nggak habis pikir. Sang anak sendiri hanya bengong dan tidak tahu kesalahannya apa. Di dalam ruko saya llihat keluarga lainnya pada shock dan bingung.

Si bapak tadi kemudian keluar lagi sambil memarkir mobilnya ke posisi semula dengan menggas kencang2. Huuh….kesal juga saya melihatnya. Ya mungkin Bapak itu emosi karena keteledoran ibu si anak.  Beberapa ibu-ibu yang lewat dan sempat  ikut menahan lajunya mobil itu saya lihat mencibir  kearah ruko, mungkin membicarakan betapa teledormya sang Ibu. Lain lagi si tukang roti bakar, dia  mengusap-ngusap dadanya sambil berkata…”aduuh… untung nggk kena gerobak saya”  hehe….

Setelah itu saya nggak lihat kelanjutan cerita seperti apa. Karena supir saya sdh terima kembalian dan langsung naik ke mobil. Dan kami pergi dari tempat itu. Hanya saya bersyukur sekali sore itu BB saya low batt jadi saya sempat memperhatikan lingkungan sekitar dan bisa mencegah terjadinya hal yang mengerikan. Harsya dan Syifa juga dapat pelajaran langsung melihat betapa anak-anak sangat berbahaya kalau bermain-main dengan mobil (terutama Harsya yg suka iseng).

Dan sekali lagi… ini adalah pelajaran berharga bagi semua ortu agar tidak pernah meninggalkan anaknya sendirian di dalam mobil, Dalam kondisi apapun.