Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

28 September 2012

Another Accident.... :-(


Ini  cerita 3 hari menjelang lebaran Idul Fitri 2012 lalu
Harsya jatuh dari sepeda lagi… dan hiks… tangannya patah lagi. Huaaaa…..

Salah apa ya bunda sebagai ibu…? Baru maret 2012 lalu Harsya operasi angkat pen untuk tangannya yang dioperasi karena patah juga akibat jatuh dari sepeda Juli 2011 lalu. rasanya saya yakin Harsya nggak pernah ngebut kalau naik sepeda, malah Harsya termasuk paling hati-hati dibanding sepupu-sepupunya yang lain. Dia hanya kurang perhitungan dan apes. Dia menghindar dari menabrak mobil tetangga yang sedang diparkir (ya, sedang parkir, agak menjorok ke jalan)  Dan dia memilih mengerem sepedanya mendadak karena takut menabrak mobil tersebut dan membuatnya penyok. Dan saya pun baru tahu kalau Harsya selama ini lebih banyak menggunakan rem kanan (ban depan) karena rem kirinya agak keras, pantas saja dia gampang terjungkal :-(

Kamis 16 Agustus, saya lagi di mal saat itu, ngebut belanja persiapan lebaran. Kantor memberi dispensasi pulang lebih awal menyambut libur lebaran, jadi saya putuskan mencari baju muslim untuk Harsya dan Syifa untuk sholat Ied.  Baru beberapa waktu belanja,  saya cek HP ada belasan miss call dari nomor Harsya, Syifa dan juga mbak… Rupanya saya lupa merubah profile  Hp dari silent kembali normal saat selesai sholat dhuhur tadi.

Perasaan hati langsung gak enak, kayaknya urgent banget sampe belasan miss call nya… benar aja… ternyata dapat kabar Harsya jatuh dari sepeda. Tangannya sakit dan agak bengkak katanya.  Terdengar Harsya menangis di telpon, tapi masih bisa bicara dengan saya.  

“Tanya mbak aja Bun… mbak yang tau”  jawab Harsya sambil sedikit  menangis, saat saya tanyakan kondisinya.
“ Sepertinya patah  Bun, karena bentuknya agak beda dengan tangan kanannya” Kata Mbak.
“Ya Allah….. lelah dengan semua iniii…”  Pengen jerit dalam hati.  Tapi saya tetap berusaha tenang  and mencoba berpikir jernih.  Ya Allah, semoga hanya terkilir saja..

Saya bayar belanjaan ke kasir dengan terburu-buru (tadinya sempat berpikir untuk tinggalin aja semua tapi akhirnya memutuskan menuju kasir juga karena toh tinggal bayar saja). Setelah itu saya langsung menuju parkiran.  Sebelumnya saya juga sudah menghubungi Bang Deni, kakak sepupu yg rumahnya kami sewa, untuk minta tolong cek kondisi Harsya sebelum bunda tiba dirumah.  Selama di perjalanan saya beberapa kali menelpon kondisi Harsya, menurut bang Deni kelihatannya hanya terkilir saja tapi nanti sebaiknya saya liat sendiri (dan ternyata itu hanya white lie supaya saya tidak panik dan terburu-buru menyetir ke rumah). Terdengar di belakang Harsya menangis saat lukanya diberi betadine.

Tiba dirumah…
Harsya terduduk di sofa. Saya cek kondisinya, Ya.. tangannya agak bengkak dan kelihatan sedikit bengkok…  :-)
Kami putuskan membawa Harsya ke dukun urut di dekat sini, kebetulan bang Deni tahu lokasinya. 
 Harsya menahan tangis saat menuju ke dukun urut. Harsya menangis krn lututnya yg luka terasa pedih

Tiba disana, melihat tangan Harsya, dukun urut bilang " Ini patah, bu..."  deg...
'" Bukan terkilir aja ya bang? tanya saya berharap 
" Lihat bentuknya sih patah bu"  duh... lemes rasanya... 
" Bisa diperbaiki aja bang, tanpa operasi?"
" Ya,kalau di operasi bisa berbekas lagi seperti ini bu" katanya sambil menunjuk bekas sayatan operasi harsya yang membentuk keloid. 

Dukun urut meminyaki tangan harsya  dan mempersiapkan kayu, kapas dan kain utk membebat tanganya. "wah..langsung dibebat nih? pikir saya dalam hati. Harsya keliatan ketakutan dan saya stress juga membayangkan tangan Harsya akan ditarik. Dan saya pun masih ragu-ragu apa ini cara terbaik.... ?

"Bang, apa gak di rontgen dulu aja ya bang ?"  sela saya
"Boleh juga bu, kalau mau lebih pasti. Nanti kalau udah di bebat nggak bisa di buka-buka lagi, di tempat rontgen pun juga dibuka lagi sama mereka nanti."

OK lah...saya memutuskan untuk rontgen dulu, sebelum melakukan tindakan apapun untuk Harsya. saya teringat pasien anak-anak yang datang ke tempat praktek dokter orthopedi Harsya dulu di Lampung dlm kondisi  tumbuh tulang baru yang bengkok di pergelangan tangannya sebulan dibebat di dukun urut. Alhasil akhirnya harus dioperasi juga.  Oh no...
;
Tangan Harsya yg kelihatan sedikit bengkok, ini setelah diminyaki oleh dukun urut, sehingga di foto ini kelihatan sangat bengkok krn efek minyak

Meluncurlah kami ke RS. Bunda Thamrin di Jl. Gajah Mada. Bang Deni sempat menawarkan menggantikan saya menyetir mobil karena khawatir saya dalam kondisi panik. Alhamdulilah..I'm not panic at all... Melihat Harsya masih bisa komunikasi dan duduk manis di sebelah saya, itu sudah cukup membuat saya merasa tenang.
Harsya di ruang tunggu Lab RS menunggu giliran rontgen
 Harsya di rontgen


Hasil rontgen betul, tangan harsya patah, bukan sekedar terkilir. Tapi patahnya memang tidak separah setahun lalu saat di siku. Jadi saya berharap mudah-mudahan bisa di gips aja tanpa perlu operasi. Duuh....jangan sampe deh operasi lagiii.... 

Sempat galau mau kembali ke dukun patah atau ke dokter orthopedi ya... Kalau cuma terkilir aja mungkin saya berani ke dukun patah saja. Tapi karena hasil rontgen benar patah, saya putuskan ke dokter orthopedi.

Kami meluncur ke Jl. Sekip, tempat praktek dokter orthopedi yang masih ada hubungan saudara dengan kakak ipar saya, beliau juga ternyata teman sekolah masa SMP mama.  

Tiba disana, saat saya tanya apakah bisa di gips saja tanpa operasi, beliau mengukur jarak patahan melalui foto rontgen dan akhirnya mengatakan, "Bisa". Alhamdulilaaahh......legaaa..... no more operation. Alhamdulilaah...... terima kasih ya Allah.... 

Jadilah akhirnya Harsya pasang gips langsung saat itu juga. Kasian Harsya harus lebaran dengan tangan di gips...nasib..nasib.... tapi nggak papa ya nak, daripada lebaran di rumah sakit karena harus operasi. duuh.. jangan sampe deh.

Harsya saat di pasang gips. sempat nangis dan bete karena kena omel dokter yang agak sedikit galak (becanda sih galaknya pak Dokter, tapi cukup bikin Harsya kesel). Karena dia nggk boleh melirik ke arah gips yang sedang dipasang. Poor Harsya... :-( 

Saya sempat tanya apakah tangannya yang bengkok/miring tidak diperbaiki dulu posisinya sebelum di gips? sang dokter malah becanda soal pengucapan kata miring yang saya sebut mereng. Duuh...padahal kan mau ikutan bicara pakai gaya medan dok, hehe....akhirnya malah saya jadi malas nanya-nanya lebih lanjut deh. Ya wis lah..berdoa saja ya Nak.. Bismillah...semoga hasilnya baik. Saya pun udah cukup stress membayangkan operasi, jadi gips saja oke lah untuk sekarang. Percaya saja sama pak Dokter deh. Oh ya, Beliau berbaik hati memberikan diskon 50% karena masih ada hubungan saudara, Alhamdulilah.. makasih ya Dok:-)

Saya membayar biaya dokter dengan mengeluarkan lembaran-lembaran merah mulus dan wangi karena baru saja beberapa saat sebelum ke mal saya menukar uang ke bank untuk angpau :-) 

Namanya musibah ya...bisa terjadi kapan saja, dimana saja....Bismillahirohmanirrahim.... Ya Allah, tapi saya berharap semoga tidak ada lagi kejadian-kejadian seperti ini lagi.  Amiiiin......

Harsya udah ceria lagi (ini foto seminggu setelahnya) Alhamdulilah.... :-)

6 Juni 2012

Kita Bisa Bila Terpaksa

Setelah melewati hari-hari di bulan ini dengan perasaan campur aduk..
Sempat juga hari ini saya tuliskan di blog apa yang terjadi pada saya hampir sebulan ini sehingga blog tidak sempat saya update. 
May is coming....
Sebenarnya bulan ini adalah bulan yang paling mengharu biru buat saya. Banyak episode penting dalam hidup saya terjadi di bulan ini. Mulai dari hari pernikahan kedua orang tua  43 tahun yang lalu, hari saya diterima bekerja dan memulai karir saya di perusahaan saya sekarang 12 tahun yang lalu, hari dimana ayahanda tercinta meninggal dunia karena ditembak orang tak dikenal 11 tahun yang lalu, dan hari dimana suami tercinta akhirnya harus menyerah dengan penyakitnya dan akhirnya meninggalkan saya 1 tahun yang lalu... semua terjadi di bulan May.

Selain moment penting dan merubah sejarah hidup saya itu, pada bulan may juga adalah hari ulang tahun ibu saya, kakak tertua saya, keponakan saya, juga hari meninggalnya kakek dan ayah mertua saya.

Beberapa hari menjelang bulan may datang...perasaan saya sedikit campur aduk, ada perasaan hampa dan sedih. Mungkin terbawa memory karena teringat dengan moment kehilangan dua orang tercinta di bulan ini. Dan terutama menyadari bahwa saya sudah kehilangan belahan jiwa hampir setahun lalu.
Rasanya cepat sekali waktu berlalu...

Ditengah perasaan campur aduk ini tiba-tiba jumat siang tgl 27 April saya dapat kabar mengejutkan.
Mama saya terserang stroke di Medan!

Ya Allah Maa.... stress saya mendengarnya.
Ada rasa penyesalan menyeruak di hati. Mama ke Medan dalam rangka ingin survey rumah dan sekolah untuk saya dan anak-anak yang akan segera pindah bulan Juni ini. Selain itu juga membawa tante yang sudah lama ingin berobat ke Medan sekalian mama juga ingin mengurus tanah keluarga disana. Mama juga punya rencana berangkat umroh sekitar bulan Juni karena itu beliau ngebut ke Medan walaupun sebelumnya mama baru saja 3 hari tiba dari Jakarta. Pasti beliau capek sekali dan akhirnya darah tingginya tidak terkontrol.

Saya langsung memutuskan untuk berangkat ke Medan menjenguk mama. Padahal rencana saya minggu ini adalah minggu tenang saya utk mempersiapkan materi training di bulan May ini dan sekaligus mempersiapkan acara peringatan 1 tahun alm. suami. Tapi mama lebih penting. Abang tertua sudah duluan berangkat jumat sore itu juga. Sedangkan kakak adik ipar dan keponakan - keponakan besok pagi-pagi sekali menyusul dengan pesawat pertama dari Banda Aceh. Saya sendiri berangkat dengan pesawat pagi dari Lampung dan transit di Jakarta dahulu untuk kemudian lanjut penerbangan ke Medan. Hanya adik saya yang bungsu yang bertugas di Kalimantan yang menyusul hari Minggu, karena dia sedang interview kerja dan harus ikut Psiko test pada hari Sabtu itu.

Saya bersyukur mama hanya terkena stroke ringan dan masih sadar dan bisa berkomunikasi dengan baik, hanya kondisinya sangat lemah sehingga mama tetap perlu mendapatkan perawatan di ICU agar lebih intensif.

Selama beberapa hari saya berada di Medan saya mendapatkan banyak sekali insight. Saya menyadari bahwa selama ini sebenarnya banyak hal yang seharusnya bisa kita lakukan tapi tidak kita lakukan karena banyaknya alasan dari dalam diri kita sendiri.

Contohnya keberangkatan saya ke Medan. Sudah lama teman-teman menyarankan saya untuk menyempatkan diri datang ke Medan untuk survey langsung rumah dan sekolah anak-anak. Tapi saya selalu excuse karena saya pikir saya benar-benar nggak ada waktu lagi untuk itu. Saya harus persiapkan training, harus persiapkan acara 1 tahun almarhum ayah, harus urus bank, harus packing untuk pindahan rumah, harus ini harus itu dan lain lain dan lain lain...

Saya cuma mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari teman, keluarga, google search untuk mencari sekolah dan rumah.  Padahal diluar itu semua, saya hanya malas kalau harus jauh-jauh terbang ke Medan. Kalau nggak terpaksa rasanya malas harus berpergian jauh naik pesawat. Terlalu banyak kekhawatiran dan excuse yang saya ciptakan sendiri.

Tapi ternyata dalam keadaan terpaksa seperti ini, saya bisa memutuskan untuk berangkat tanpa banyak pertimbangan. Saya kesampingkan rasa khawatir saya untuk bisa melihat kondisi mama secepatnya. 4 hari saya di Medan, saya kembali hari Rabu 2 May ke kantor dan persiapkan training hanya dalam 3 hari. Sebelumnya untuk materi training saya delegasikan ke admin saya untuk mencopy semua materi. Saya edit soal-soal test training secepat mungkin. Ternyata tidak butuh waktu lama.

Sedangkan untuk persiapan peringatan 1 tahun alm. suami, semua dipersiapkan kakak ipar saya, mulai dari tarub (tenda), katering sampai undangan. Semua bisa berjalan dengan normal sesuai rencana. Dan acara pengajian berlangsung lancar hari Sabtu 5 May 2012 lalu.

Kami 6 orang kakak beradik yang selalu susah untuk liburan atau kumpul bersama karena kesibukan masing-masing, ternyata juga bisa berkumpul dalam kondisi darurat. Bahkan ipar dan keponakan semua bisa berkumpul walaupun bergantian (kecuali Harsya dan Syifa)

Ternyata semua bisa kita lakukan bila kita terpaksa...
*Get well soon Mom..."

ps: Anyway semua cerita  ini belum berakhir disini. Tunggu postingan selanjutnya ya

6 Oktober 2011

Another Storm or...

26 Sept 2011, Senin menjelang sore..Manager saya, Nadra, mengirim bbm, isinya kemungkinan dalam waktu dekat saya segera harus pindah ke Medan. Seharusnya VP (Vice President) meminta saya pindah October ini, tapi Nadra meminta waktu sampai November. Dan ini adalah assignment.

November? Tapi ini sudah bulan September akhir…oh God..

Saya sebenarnya tidak terlalu kaget dengan keputusan ini. Dari awal saya ditugaskan di bagian Training Specialist atau CS Development sejak kira2 setahun lalu, posisi saya memang harusnya ada di kota Medan di Kantor pusat Regional utk wilayah West (Sumatera Area) . Tapi Perusahaan memberikan kebijaksanaan kepada saya utk tetap stay di Lampung karena kondisi keluarga saya yang tidak mungkin pindah ke Medan (Saat itu suami masih kerja seperti biasa walaupun dalam kondisi berobat).

Persoalan pindah ke Medan ini sudah menari2 di benak saya sejak setahun lalu…dan baru sedikit mulai serius saya pikirkan setelah bulan Mei kemarin… walaupun dalam hati saya jawabannya 75% saya tidak siap.

Sekitar bulan November 2010, Saat saya bertugas 10 hari di Medan, saya bertemu dengan VP saya yang sangat baik hati dan care. Sikapnya sebagai atasan yang rendah hati dan welcome selalu membuat saya salut. Pak Agus Simorangkir namanya.

Beliau waktu itu berkata, “kenapa kamu tdk pindah ke Medan saja, disini kamu lebih mudah mengobati suami, jarak Medan-Penang kan lebih dekat drpd Lampung-Singapore. Biaya berobat ke Penang pun lebih murah daripada di Singapore” .

Waktu itu saya sampaikan tidak mungkin pindah ke Medan karena kami tidak punya keluarga dekat yang bisa kami titipkan anak-anak kalau kami ke Singapore, dan lagipula suami saya masih punya aktifitas kerja di Lampung. Saat itu Pak Simo tidak memaksa, walaupun saya tahu sebagai atasan beliau bisa saja memaksa saya utk pindah ke Medan dgn alasan profesional. Tapi beliau tidak lakukan itu. Terima kasih atas pengertiannya Pak..

Akhir Mei 2011, Kira2 dua minggu setelah saya kembali beraktifitas normal sejak suami meninggal, Manager Regional Lampung Area, Mas Standish, memanggil saya keruangannya. Beliau baru saja kembali dari meeting di Medan dengan seluruh Management dan salah satu Direktur perusahaan kami dari Jakarta. Beliau kembali menanyakan kemungkinan saya utk pindah ke Medan… Rupanya saat meeting koordinasi di Medan, Direktur mempertanyakan posisi saya yang ditempatkan di Lampung, bukan di Medan. Saat itu Pak Simo mem- back up saya, namun beliau juga berkata akan segera memikirkan kemungkinan saya utk pindah ke Medan.

Saya bingung… baru 2 minggu dlm kondisi ditinggal suami. Tentu saya belum siap utk semua perubahan ini. Jadi saya jawab, saya tidak punya keluarga dekat di Medan yang bisa diajak tinggal dirumah. Saya bingung harus menitipkan anak-anak pada siapa kalau saya keluar kota, saya tidak berani meninggalkan mereka berdua hanya dengan pembantu saja. Bagaimana kalau ada apa-apa dengan anak-anak.
Dan Alhamdulilah lagi-lagi management tidak memaksa… hanya memberi wanti-wanti, bahwa suatu saat saya harus mulai bersiap2 karena kemungkinan saya tetap akan diminta ke Medan. Begitu juga yang disampaikan Nadra beberapa waktu kemudian saat ia berkunjung ke Lampung.

Dan sekarang…hari ini…

Tidak ada lagi jawaban tidak. Ini adalah assignment. Perintah. Artinya bila saya menolak utk pindah ke Medan, maka saya harus mencari posisi lain di divisi lain agar bisa tetap ada di area Lampung. Pilihan sulit….saya suka sekali dengan pekerjaan ini. Bahkan saya mulai menemukan passion disini. Menjadi trainer adalah hal menarik yang baru saya pelajari. Kalau saya harus ke divisi lain, belum tentu saya enjoy dengan pekerjaan itu. Dan apakah divisi lain juga bisa menjamin saya tidak dipindah ke kota lain?

saya stress sekali… Bahkan mata saya berkaca-kaca di meja kerja saya menahan tangis.
I think maybe this is another storm in my life….

Nadra sudah menyampaikan dengan bahasa yang sangat hati2 kepada saya, karena dia tau pasti saya akan sulit menerima. Ya memang ini sulit sekali….. bukan untuk saya, saya tidak ada masalah dengan kota Medan. Saya punya banyak sahabat sejak SMP yang kebetulan tinggal disana. Saudara juga sebenarnya ada beberapa. Saya yakin saya akan betah di Medan.

Tapi bagaimana dengan Harsya dan Syifa? Saya tidak tega mereka harus jauh dari lingkungan masa kecil mereka. Jauh dari sepupu-sepupu, om-tante yang selama ini selalu hadir di tengah keluarga kami. Di Medan nanti mereka pasti kesepian sekali, Tidak ada sepupu dan keluarga dekat. Baru saja ditinggal ayahnya, mereka sudah harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Pasti mereka akan terguncang.

Belum lagi siapa yang bisa saya andalkan bila saya tugas keluar kota berhari-hari. Selama ini di Lampung saya sudah sangat nyaman. Anak anak tidak pernah kesepian. Keluarga suami semua selalu siap membantu.

Dan… saya akan sangat jauh sekali dari alm. suami… saya tidak bisa sering2 berziarah ke makamnya.. hikss…

This is just too soon for me.. I’m not ready to change my life yet..
Oh God what should I do…
*********
26 Sept 2011, Malam hari

“Bunda, bunda kenapa..?” 
Harsya dan Syifa heran melihat raut wajah bundanya yg dari tadi bingung dan muram. Hmm… Bunda sedang bingung nak…
“ Nggak ada apa apa ….”
Semalaman saya tidak berhenti memikirkan masalah ini. Bingung. .

Apa sebaiknya saya pindah saja ke divisi lain dulu, paling tidak sampai anak-anak sdh agak besar dan saya sdh lebih siap utk hidup mandiri? Walaupun itu artinya saya harus rela melakukan pekerjaan baru yang sepertinya tidak sesuai dengan minat saya? Tapi saya nggk boleh cengeng kan..mungkin saya bisa mencoba. Siapa tahu hal baru itu tidak sesulit yang saya bayangkan.

Atau apa saya coba mencari lowongan di perusahaan lain? Siapa tahu ada posisi yang lebih pas dengan minat saya. Atau mungkin sebaiknya saya buka usaha sendiri saja agar tidak tergantung dengan perusahaan? Bukankah banyak orang yg berhasil dengan berani keluar dari zona nyamannya dan ternyata sukses dengan usaha nya sendiri?

Ah..Tapi untuk single parent seperti saya rasanya terlalu spekulasi utk saat ini. Rasanya pasti berat kalau memulai suatu usaha baru dalam situasi seperti ini. Kalau nggak mau dibilang nekad.

Lagipula saya sudah bekerja di perusahaan ini selama 11 tahun. Semua dimulai dari bawah, saya sudah mendapatkan salary yang cukup lumayan dan berbagai fasilitas kesehatan dijamin oleh perusahaan. Saya enjoy sekali dengan pekerjaan saya. Sayang sekali rasanya kalau semua ini saya tinggalkan hanya karena saya takut utk memulai hidup baru di kota dan lingkungan yang baru..?

Saya harus berani. Saya kan tidak punya pilihan untuk berhenti bekerja seperti teman2 lain yang posisinya harus dipindah divisi ke luar kota sehingga memutuskan keluar dr perusahaan. but me? sebagai orang tua tunggal saya harus tetap berjalan. Saya harus berkarir disini, mungkin ini saatnya saya utk berkembang. Keluar dari zona nyaman saya di Lampung. Mungkin inilah saatnya saya pindah ke kota yang lebih menjanjikan karir utk saya.

Tapi bagaimana dengan anak-anak? Apa anak-anak saya tinggal di Lampung saja ya? atau……….. di Aceh? Tiba-tiba terbersit sebuah ide cemerlang..

Ya…. Kalau saya khawatir anak-anak di Medan kesepian, tidak ada yang mengawasi, Kenapa tidak saya titipkan saja anak-anak di Banda aceh dengan mama dan kakak2 saya? Dirumah mama ada kakak saya dan anak2nya. Harsya pasti senang sekali serumah dengan Popon, abang sepupunya. Syifa juga pasti senang ada Fasya kakak sepupunya yg usia nya cuma selisih 2 th. Dan yang terpenting Banda Aceh kan tidak jauh dari Medan. Mungkin saya bisa pulang setiap 2 minggu sekali ke Banda Aceh untuk menengok anak-anak…

Tapi…kasian mereka harus kehilangan kasih sayang saya, setelah baru saja kehilangan ayahnya. Apa ini tidak terlalu berat buat mereka ya... Tapi bukankah banyak ibu-ibu lain yang juga harus berpisah dengan anaknya karena tuntutan pekerjaan.?

Ah, mereka pasti bisa. Mereka akan mengerti selama saya bisa menyampaikan dan memberi pengertian kepada mereka. Mereka bukan anak-anak cengeng. Lagipula ini mungkin tidak berlangsung seterusnya. Kalau saya sudah mantap di Medan, saya bisa bisa boyong mereka kesana.

Ah tiba-tiba saya menjadi begitu bersemangat…
Maybe this is not a storm, maybe this is an opportunity!

Esoknya saya menelpon mama, dan beliau antuasias sekali. Tapi beliau tidak setuju anak-anak dititipkan di Aceh. Mama Khawatir kalau mereka sering kangen atau saya kangen. Dan mama juga tidak mengijinkan saya tinggal sendirian di Medan.

Mama malah menyatakan akan ikut saya pindah ke Medan. What? Really? Wah….saya senang bangeet… tapi apa mama yakin? Memang dulu di bulan Juni mama juga sempat bilang kalau saya dipindahkan ke Medan mama siap menemani saya. Tapi saya pikir ah ..kasian mama. Beliau kan sdh punya kehidupan yang nyaman di kota Banda Aceh. Semua relasi dan kehidupannya ada disana.

Tapi mama meyakinkan kalau beliau tidak ada masalah sama sekali. Toh Medan dan Banda Aceh juga dekat. Lagipula sudah lama beliau ingin membuat rumah di Medan untuk tempat liburan keluarga.

Thanks Allah…
Saya senang sekali, terima kasih Ma.. Mama membuat semua ini mudah buat saya. Terima kasih Allah sudah membukakan jalan untuk saya..

Sekarang tinggal bagaimana menyampaikan ini kepada ibu mertua…
Doakan ya semoga keputusan saya pindah ke Medan adalah keputusan terbaik untuk masa depan saya dan anak-anak. Amiin…

** Ayah, bunda minta ijin membawa anak-anak pindah ke Medan ya… I hope you don’t mind..

21 April 2011

Long Weekend


"Liburan besok kemana?" seorang teman mengirim bbm.
Ah ya, ini menjelang long weekend. karena Jumat besok libur Paskah. Pasti banyak orang sudah punya segudang rencana untuk mengisi long weekend besok, saya sendiri lupa kalau besok hari libur. Malah sebelumnya saya berencana akan mengerjakan report yang sdh masuk deadline di hari Jumat besok. Karena rabu dan kamis ini full diisi dengan meeting.

Hmm... liburan kemana?

Saya nggak punya rencana kemana-mana. Ya.mau kemana dalam kondisi seperti ini? Ayah sakit, waktupun terbatas karena ayah tidak ada yang jaga, kondisi keuangan pun tidak mendukung.  klop kan?  :-p

Jadi long weekend ini tidak ada yang special. Sebenarnya ada sih enaknya, yaitu saya bisa sedikit santai, tidak perlu buru-buru bangun pagi untuk mengurus keperluan Harsya sekolah, dan tidak perlu tergopoh-gopoh bolak balik kantor -rumah karena hari ini libur. Saya bisa seharian stay at home, ngurusin semua keperluan ayah. Terutama memperhatikan asupan makannya

Tapi..stay at home seharian bisa juga berarti saya bakal capek banget karena itu berarti sepanjang hari tidak ada yang menggantikan. Sepanjang hari mengurus keperluan ayah, apalagi dengan kondisi rumah tidak ada pembantu. Rasanya lebih baik di kantor deh daripada harus dirumah.

Ya, kadang-kadang kantor bagi saya menjadi tempat pelarian dari semua masalah dirumah. Hm…Benar juga kalau ada yang bilang ibu rumah tangga kadang-kadang lebih capek daripada jadi pekerja kantoran.  Dari mulai bangun pagi sampai tidur lagi, adaaaa…saja yang dikerjakan. Mulai menyiapkan anak-anak sekolah, menyiapkan makan, memandikan anak-anak, menyapu, membereskan rumah, mencuci piring, tau-tau tanpa terasa hari sudah siang. Begitu terus sampai malam. Biasanya baru bisa istirahat setelah anak-anak tidur. Sama sekali tidak ada waktu untuk diri sendiri…

Tapi kondisi ini tentu tergantung juga, kalau ibu rumah tangga yang dirumahnya punya asisten (pembantu) atau anak-anak sudah beranjak dewasa tentu bisa lebih santai sedikit....Begitu juga kalau ibu bekerja yang dikantornya padat dengan kerjaan, tentu kantor tidak bisa dijadikan 'pelarian' dari pekerjaan rumah. 

Malah yang lebih melelahkan adalah bila dikantor sudah repot dengan kerjaan, sampai dirumah masih harus direpotkan lagi dengan urusan pekerjaan rumah tangga… hmm kadang-kadang saya ada di situasi tersebut. Untung saat ini saya sudah tidak di bagian operasional, jadi pekerjaan kantor sehari-hari tidak terlalu menyita waktu. Berada dikantor kadang-kadang bagi saya ‘lebih santai’ daripada berada dirumah. Saya bisa fokus dengan pekerjaan dan diri sendiri.

Anyway…semua sudah ada porsi masing-masing. Walopun sedih nggk bisa liburan kemana-mana. Yah.. paling tidak saya sangat bersyukur masih bisa menghabiskan waktu dan berada di tengah-tengah keluarga tercinta... Alhamdulilaah...

Have a nice long weekend everyone :-)

19 April 2011

They Just Don't Know What Happen

To day, i'm late again for the office. Dan kali ini ada suara sumbang yang menyambut dengan nyaringnya. "PAGIIIIIIIII......!" ditengah-tengah ruangan lantai 2 yang penuh dengan karyawan lainnya,suara nyaring itu menyapa. Tentu bukan sapaan selamat pagi sesungguhnya, namun sindiran untukku, karena saat itu sudah hampir menjelang pukul 10 pagi. Hiiiiks...sedih banget dengarnya! dan tentu saja aku malu sekali.

Selama ini aku yg termasuk karyawan senior di kantor, tidak ada yang berani ngusilin aku, seperti aku juga tidak ngusilin karyawan lainnya bila ada yang datang terlambat. Terserah mereka masing2, toh aku bukan atasan mereka.

Hanya sejak 4 bulan ini, sejak ayah tidak bisa bangun dari tempat tidur, praktis aku tidak bisa lagi datang pagi ke kantor. Karena sebelum ke kantor aku harus menyuapi ayah dulu, membantu buang air kecil, minum vitamin dan obat dan memastikan semuanya beres baru aku berangkat. Karena aku harus bergantian menjaga dengan kakak iparku. Tidak enak rasanya pagi-pagi langsung meninggalkan suami dengan kakak ipar begitu saja. Dia kan juga punya keluarga yang harus diurus.

Apalagi sejak 2 minggu ini kami tidak punya pembantu. Maka bertambah lagi extra kegiatan yang harus aku lakukan sebelum berangkat ke kantor, memasak untuk sarapan Harsya dan Syifa, memandikan Harsya dan Syifa, membuat teh untuk sarapan ayah, membuat jus utk ayah, memasak air panas, baru menyuapi, memberi obat,vitamin dll. Setelah semua beres aku bisa mandi dan bersiap-siap. Dan itu butuh waktu. kadang-kadang ayah harus dipaksa dulu untuk makan. belum lagi perutnya mual sehingga makannya tidak bisa cepat. Sering aku berangkat dengan jilbab yang seadanya, tanpa disetrika lagi saking nggk sempatnya.

Memang sejak 4 bulan ini praktis paling cepat aku berangkat ke kantor pukul 9 pagi. Itupun sudah terbirit-birit dan sudah memaksa kakak ipar untuk datang lebih awal, Ya, dia kan juga sama sedang tidak ada pembantu juga, jadi dia harus mengurus keluarganya dulu baru bisa menunggui ayah.

Dan sebenarnya ada beberapa kali aku pernah juga mendengar sapaan sumbang ini sebelumnya dari office girl di kantorku, setiap aku baru tiba di kantor, dia akan menyapaku dengan " Selamat PAGI Bu...." terasa sekali dia menyindir aku, tapi aku diam saja dan tersenyum. Walaupun dalam hatiku sedih dan bete mendengarnya. Entahlah mungkin sebenarnya dia tdk bermaksud apa-apa. Hanya aku saja yang terlalu sensitif.

Sampai-sampai karena aku malu kalau terlalu sering terlambat ke kantor, sering aku datang hanya ber lenggang kangkung, tidak membawa tas tangan sama sekali, hanya membawa handphone dan dompet kecil, sedangkan laptop aku taruh di kantor atau aku titipkan pada adminku yang membantuku menghidupkan laptopku setiap pagi, adminku satu-satunya rekan kantor yang kujadikan teman curhat mengenai kondisiku setiap hari. Pernah dia yang membalas email penting yang harus di reply dengan cepat sedangkan aku masih dirumah karena kakak iparku ada keperluan sehingga aku harus pulang lebih awal. Ah.. untung aku masih punya rekan kerja yang bisa mengerti kondisiku.

Pagi ini, aku tidak sempat menitipkan laptopku di kantor, karena kebetulan kemarin sore aku pulang agak malam karena sedang banyak kerjaan yang harus kukerjakan. Dan rencana melanjutkan pekerjaan dirumah (yang tidak pernah bisa terwujud ) Jadi...pagi ini aku datang dengan menenteng tas laptop daaaaan....bertemu dengan pimpinan di kantor cabangku disini. Beliaulah yang menyapaku dengan sapaan sindiran yang sangat lantang diatas tadi. hiiiks....... sediiih.....bete...kesal. Aku tahu beliau hanya menyindir sambil bercanda, karena beliau sebenarnya cukup baik padaku. Tapi tetap saja rasanya nggak enak dan malu bangeeet....

Mungkin saja ya dalam setiap pikiran rekan-rekan kantor terbersit dalam hati "kenapa sih mbak Ratu ini telat melulu ya?" hanya saja tidak mereka ungkapkan. Tapi mau bagaimana? apa aku harus menceritakan pada semua orang dikantor mengenai kesibukanku setiap hari? masalah-masalah yang aku hadapi?

Apa perlu aku ceritakan juga kenapa setiap jam makan siang aku harus pulang kerumah? apa mereka tahu saat jam istirahat aku harus pulang untuk memasak air, memandikan ayah, menyuapi, minum obat, jus. Makan saja aku lakukan dengan terbirit2. Apalagi sejak tidak ada pembantu, Jam istirahat harus meladeni Harsya dan Syifa yang minta ini-itu.makan, minum, ke kamar kecil. Belum lagi kalau mereka mau pup. Aduuh... jam istirahat buatku adalah jam kerja rodi, not istirahat at all. Setelah semua selesai,aku terbirit2 kembali ke kantor. Untunglah rumah mertuaku hanya berjarak 5 menit dari kantor.

Dan setelah pulaang.... belum lagi aku menaruh pantatku di kursi, belum lagi aku mengganti baju kerjaku, bahkan belum sempat aku buka jilbab, semua sudah meminta perhatianku, Harsya minta makan, Syifa merengek-rengek ngambek karena nggak diajak menjemputku, Ayah batuk-batuk dan harus dibantu membuang dahaknya, belum lagi kamar anak-anak yang seperti kapal pecah. Aku baru bisa tidur sekitar jam 11 malam paling cepat,itupun biasanya setiap 2 jam sekali terbangun karena ayah batuk atau ingin buang air kecil. Mungkin setiap hari aku hanya tidur 4-5 jam saja.

Tapi nggak mungkin kan aku ceritakan semua kondisi ini pada orang sekantor? Nggak mungkin kan aku bilang, "maaf ya saya terlambat karena harus bla bla bla.....

Duuh..walaupun aku kesel dan sedih banget pagi ini, tapi ya sudahlah.. aku putuskan untuk tidak ambil hati terhadap apa yang terjadi. buat apa sih aku memikirkan omongan orang yang tidak mengerti kondisi ku sebenarnya.  Daripada aku jadi tambah bete, aku anggap aja angin lalu, toh mereka begitu karena tidak mengerti apa yang kualami, mereka melakukan itu karena mereka tidak mengerti kondisiku yang sebenarnya. Aku nggak mau pikiran-pikiran negatif membuatku jadi tambah sedih..

Aku jadikan bahan instrospeksi saja, semoga di balik semua cobaan yang kuhadapi ini aku bisa berusaha bekerja lebih baik lagi dan berusaha lebih tepat waktu walaupun semua bukan mauku, dan walaupun mungkin aku harus berkorban lebih banyak lagi dengan waktuku yang sempit ini.

Semoga Allah membantu semua kesulitan-kesulitan ku.
Amiin ya robbal Alamiin...

28 Maret 2011

Sabar ya Nak...

Weekend ini entah minggu ke berapa kami hanya menghabiskan waktu dirumah. Kemarin Syifa berkata 'Bun...Syifa pingin ayah cepat sembuh...biar ayah bisa kerja lagi...Syifa pengen jalan-jalan...lihat jerapah...Syifa bosan dirumah terus'

Surprise...Syifa bisa ngomong seperti itu?

'Syifa doain ayah dong...biar ayah cepat sembuh....' kataku seperti biasa kalau anak-anak mulai bertanya tentang sakitnya ayah.

Biasanya Syifa akan memangguk setuju, tapi kali ini Syifa berkata.. "Uuh...Batin Dinda aja nggak pernah doain ayahnya, tapi kok ayahnya nggk sakit. Aneeeh..." kata Syifa sambil bersungut-sungut. Sungguh sedih sekali aku mendengarnya...

"Sabar ya Nak.. Bunda juga ingin ayah cepat sembuh...kita semua ingin ayah cepat sembuh...Sakit ayah itu kan dari Allah....sabar ya sayang.."

Banyak keinginan Harsya dan Syifa yang tidak bisa kami penuhi, keinginan khas anak-anak...ingin jalan-jalan.. ingin liburan... ingin rumah yang besar.. ingin mobil banyak... ingin ini... ingin itu....semuanya hanya bisa aku jawab... "nanti ya sayang..kalau ayah sudah sembuh....nanti kita jalan-jalan...nanti kita beli rumah yang besaaar...mobil yang banyaaak....dsb"

Biasanya mereka mengangguk-angguk setuju...
Tapi rasanya sekarang kalimat itu sudah tidak mempan lagi..

Mungkin mereka sudah bosan atau mereka sudah cukup besar dan sudah bisa protes.... Bahkan pernah saat aku menjawab dengan kalimat itu, Harsya menjawab "aah...nunggu ayah sembuh lama!" Ya Allah... sedih sekali bunda mendengarnya sayang...

Tapi aku tidak menyalahkan anak-anak.. sebenarnya mereka anak-anak yang manis...mereka jarang sekali mengeluh dan cukup mengerti keadaan ayah dan bundanya...Bunda tidak menyalahkan Harsya dan Syifa sayang....Kalian masih sangat kecil untuk mengerti semua ini...

Maafkan ayah dan bunda ya Nak... Ayah juga pasti ingin sekali sembuh...ingin sekali jalan-jalan dengan Harsya dan syifa...bahkan ayah sering bilang sama bunda, ayah iri krn nggak bisa mencium dan menggendong kalian dengan puas seperti bunda.

Doakan ayah ya Nak...
Supaya ayah bisa sehat lagi, supaya Syifa bisa ajak ayah jalan-jalan ke mal seperti kata Syifa dulu "kalau ayah udah sembuh, Syifa mau ajak ayah jalan-jalan ke Mal Kartini"

Ya Allah..kabulkanlah doa anak-anakku..dan berikanlah kami kesabaran atas cobaanMu ini.. Amiin...ya robbal Alamiin...

Cepat sembuh ayah...we miss you a lot, dear...

22 Maret 2011

Everyone Needs Support


"Bila suatu saat anda kenal dengan seseorang yang anda tahu sedang berjuang melawan sesuatu yang berat dalam hidupnya, berikanlah dukungan. Berikan itu langsung pada yang bersangkutan secara pribadi. Tunjukkan padanya bahwa anda peduli"

Sabtu sore kemarin saya terima berita menyedihkan, seorang rekan kerja yang baru menikah 3 bulan lalu, suaminya mengalami koma akibat pendarahan di otak, setelah mobil yang dikendarai nya mengalami kecelakaan. Rekan kerja tersebut berdomisili di Padang. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan nya menghadapi situasi dan kenyataan menyedihkan yang datang tiba-tiba ini, Ini adalah sebuah mimpi buruk bagi siapapun.

Walaupun saya pernah beberapa kali mengalami kondisi mengerikan saat menghadapi vonis dokter dan mendampingi suami melewati berjam-jam menegangkan di meja operasi, tapi saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan seorang istri ketika tiba-tiba mendengar suaminya mengalami kecelakaan dan sekarang berada dalam kondisi koma. Pasti luar biasa terpukul...

Meskipun demikian, satu hal yang saya tahu persis, bahwa di saat seperti ini pasti dia membutuhkan support luar biasa dari keluarga dan lingkungan sekitarnya. Dalam keadaan shock dan kesedihan mendalam seperti ini, pasti dia sangat membutuhkan simpati, empati, doa, semangat dan dukungan dalam bentuk apapun. Saya tahu persis itu. Karena itu walaupun saya dan rekan tersebut jarang komunikasi, saya memutuskan mengirimkan sms ucapan turut bersedih dan ikut berdoa bagi suaminya serta dukungan moril utk bersabar.

Saya tahu, kadang-kadang kita merasa tidak enak, segan atau merasa sungkan untuk bertanya bagaimana kondisi dan perkembangan keluarga teman kita yang mendapat musibah. Kita takut bertanya detail karena khawatir mengganggu teman kita yang sedang kalut atau takut membuatnya semakin sedih...Saya tahu banyak dari kita yang merasakan hal seperti itu...Apalagi kalau sehari-hari kita tidak terlalu dekat dengannya.

Saya pernah berada di situasi seperti ini, beberapa kali.
Saat saya sedang sedih mendampingi suami tercinta di rumah sakit, tidak semua teman saya menunjukkan empatinya. Saya memang tidak ingin berbagi kepada semua orang tentang kesedihan saya, Saya juga tidak mau terlalu banyak berbagi tentang masalah saya pada orang lain. Saya bahkan tidak ingin banyak yang tahu mengenai sakit yang dialami suami, apalagi suami wanti-wanti agar tidak memberitahukan kondisinya pada banyak orang.
 

18 Februari 2011

Hidup ini adalah sesuai yang kita jalani...

Pagi-pagi saya sudah membuka Facebook dari layar notebook saya, khusus untuk membalas ucapan selamat ulang tahun untuk Syifa di status saya. Saat membuka page "Home"di facebook, mata saya tertuju pada deretan foto yang diupload oleh sahabat saya, judul albumnya adalah liburan. Foto-foto di album itu sangat mengaduk-aduk perasaan saya ….foto-foto itu berisi perjalanan liburan teman saya bersama suami dan kedua anaknya ke Singapore.

Satu persatu saya menatap foto yang ada di album itu… mulai dari foto mereka di ruang tunggu bandara, di dalam cabin pesawat, di lobby hotel, di Marina Bay, sampai saat menyenangkan di Universal Studio dan tempat –tempat lainnya. Senang sekali saya melihatnya ….. sekaligus sedih.. sedih sekali…..

Foto-foto itu adalah impian kami… Liburan bersama, Just the 4 of us. Ayah, Bunda, Harsya dan Syifa.. Alangkah bahagianya pasti Harsya dan Syifa bila bersama ayah bunda, menghabiskan liburan bersama. ..

Kontras sekali dengan apa yang saya alami beberapa waktu lalu…Tempat-tempat yang ada di foto itu juga sempat saya datangi bersama suami, tapi dalam kondisi berbeda… sangat berbeda. Empat kali bolak balik Singapore, jangankan mengajak Harsya dan Syifa ikut serta, kami lebih banyak stay at the apartment atau di hospital. Walaupun sempat juga mampir ke lokasi-lokasi diatas. Tapi tentu berbeda krn memang kami kesana bukan dalam rangka liburan…

Hmm…memang Harsya dan Syifa masih terlalu kecil untuk menikmati liburan seperti itu saat ini. Tapi yang membuat sedih sebenarnya adalah kekhawatiran dan ketakutan yang ada di hati kecil saya…. Selama berada di Singapore dulu kami berdua bertekad akan membawa Harsya dan Syifa kesini bersama kalau kondisi sudah lebih baik…. Tentu dalam suasana liburan. Tidak juga harus jauh ke Singapore. Asalkan kami liburan bersama-sama. The four of us……

Tapi kenapa sekarang ini sepertinya keadaan malah semakin tidak berpihak? Akankah impian kami mengajak Harsya dan Syifa liburan bersama ayah bundanya akan terwujud suatu saat nanti? Saya merasa sedih..dan takut bila impian kami itu tidak akan pernah terwujud… Sungguh bayangan akan hal itu membuat saya merasa sangat sedih…

Ah….setelah sempat tercenung beberapa saat menatap deretan foto-foto tersebut, saya kemudian membuka email… ada satu email dengan subject yang agak lain dari biasanya.. .."Mohon Do’a"… Ya Allah…ternyata ada 1 rekan kerja saya di kota berbeda dalam kondisi drop dan tidak sadar di ICU karena kanker kelenjar getah bening yang dideritanya…

Astagfirullah….saya tersentak. Sungguh hidup ini adalah kuasaMu… masih ada orang lain yang juga punya penderitaan dan cobaan yang lebih berat daripada saya…Apakah saya pantas mengeluhkan soal impian saya yang mungkin tidak akan terwujud? Saya masih harus bersyukur karena kondisi suami tercinta masih lebih baik saat ini.. walaupun tidak seperti yang kami inginkan.

Saya jadi ingat kata-kata seorang Ustad dalam ceramahnya di teve 2 hari yang lalu.. “Hidup ini bukanlah sesuai yang kita impikan…Hidup ini adalah sesuai yang kita jalani…” Saya dan setiap orang mungkin punya impian…..tapi hidup kita adalah apa yang kita jalani saat ini… Saya yakin maksudnya bukan berarti kita tidak boleh bermimpi, karena mimpi adalah semangat yang mendorong kita lebih maju….Tapi janganlah kita lupa bersyukur dan bersikap tidak ikhlas..hanya karena hidup kita jalani tidak sesuai dengan yang kita impikan….

Subhanallah...Semoga saya selalu diingatkan untuk menjadi orang yang tawakal dan pandai bersyukur.

4 Januari 2011

Not Everyone Understand..



"Sometime not everyone understand what you've been through...
And you can't push them to understand you...
All you can do is just keep the spirit...
And believe that Allah will never leave you alone...."

Tulisan ini saya buat saat saya menyadari bahwa tidak semua orang di sekeliling kita mau mengerti dan memberi toleransi terhadap apa yang sudah kita alami. 

Bagi saya semua yang terjadi pada saya begitu berat, tapi mungkin di mata orang lain itu tidaklah begitu penting. Apa yang terjadi dalam hidup saya mempengaruhi begitu banyak keputusan dan mempengaruhi interaksi saya dengan dunia sekeliling saya, tapi ternyata tidak semua orang mau peduli dan mengerti apa alasan dibalik semua itu...

Dan tentu saja saya tidak bisa memaksa mereka untuk mengerti saya. It's really not easy to become a wife, a mother and an employee. Especially when the role were clashing with each other.... 

Walaupun hal ini menyakiti perasaan saya dan membuat saya begitu sedih....tapi saya harus tetap semangat dan yakin bahwa Allah akan selalu membantu saya dan tidak akan meninggalkan saya sendiri menghadapi semua ini....Amiiin...Insyaallah...

Pls help me through this all God..

26 November 2010

Aku Ingin...

Aku ingin waktu kembali ke masa lalu..

Saat awal ku mengenalmu..
Aku ingin perbaiki semua waktu yang terbuang sia-sia..
Yang kita lewatkan dengan percuma..

Aku ingin setiap detik dari hari-hari itu kita lalui seperti hari-hari kini…
Saling mengerti, saling setia, saling menjaga dan saling mengingatkan…
Aku ingin kau menjadi dirimu yang sekarang tapi di masa lalu
Aku ingin menjadi diriku yang sekarang juga di masa lalu..
Masa lalu yang cukup panjang kita lalui bersama..

Masa lalu sebelum semua yang terjadi pada kita saat ini…
Aku tak ingin melalui kerikil tajam, gelombang pasang dan semua badai ini
untuk sampai ke masa kini
Aku tak ingin melalui semua itu…

Walaupun mungkin semua itu yang mengantarkan kita ada disini, kita di masa kini..
Aku ingin melewati masa kini bersamamu bahkan hingga waktu tak terhingga..
Aku mohon Tuhan beri aku kesempatan untuk menyayangi mu sampai batas waktu tak terhingga..

My Mind is Somewhere Else…

Here I am…
Sitting in front of my desk. Looking at my notebook.
Just me. And my mind...

Every body around me is talking and laughing
There’s something funny they’re talking about.

I just smile … don’t know what supposed to do
coz my mind is not really there.

I’m here... but my mind is somewhere else…

22 September 2010

Ramadhan yang sedih...

Ramadhan tahun ini bagi saya sangat berbeda..

Ramadhan tahun ini kami lewati dengan perasaan tak menentu.. Rencana melewatkan lebaran Idul Fitri di kampung halaman tercinta Banda Aceh pun batal.

Biasanya setiap kali memasuki bulan Ramadhan, malam taraweh pertama menjadi moment yang tak ingin dilewatkan oleh siapapun, termasuk saya dan suami.. Tapi malam itu kami lewatkan dengan perjalanan tergopoh-gopoh dari Mount Elizabeth Hospital menuju Changi airport di Singapore untuk mengejar flight terakhir ke Jakarta.

Kami tiba di Cengkareng pukul 11 malam dan baru sampai di rumah kakak ipar saya di daerah cibubur sekitar jam 1 pagi. Saya sendiri baru bisa tidur sejam setelahnya karena harus memilah-milah isi koper lagi, besok saya langsung mengikuti training selama 3 hari di Jakarta.

11 Agustus 2010. Sahur pertama…hmm...saya teringat dengan Harsya..
Rencananya tahun ini Harsya mulai puasa full sehari penuh. Kasihan membayangkan Harsya harus merasakan sahur pertamanya di Ramadhan tahun ini tanpa ayah dan bunda.

Selepas sahur, suami langsung menuju Cengkareng utk perjalanan ke Lampung dgn flight pagi, sedangkan saya langsung menuju kantor untuk training. Tidur hanya 2 jam membuat mata saya susah sekali diajak bekerja sama. Capek dan lelah…. Bukan hanya fisik, terutama hati. Terbayang hari2 ke depan yang akan kami lewati.. .. Ya Allah..… mampukah kami….

Sahur kedua, ketiga dan ke empat saya lewatkan di hotel...
Ramadhan hari ke empat baru saya bisa merasakan berbuka bersama keluarga di Lampung. Ah..senangnya, walaupun masih di rumah mertua, karena Harsya dan Syifa selama ditinggal ke Singapore kami titipkan di rumah neneknya. Kami sengaja tidak buru-buru pulang ke rumah sendiri, agar bisa sekaligus menemani mama mertua, karena baru Ramadhan tahun ini kami tidak berpuasa bersama mama karena sudah menempati rumah sendiri akhir tahun lalu.

Minggu ke dua Ramadhan.
Alhamdulilah.. akhirnya bisa merasakan sahur dan berbuka di rumah. Ramadhan kali ini Harsya sudah full puasa sampai magrib. Harsya puasanya pinter, tidak pernah merengek. Tapi suka usil minta disuapin kue atau makanan sama Syifa. Sengaja menunggu reaksi bunda negur, lalu ketawa terbahak-bahak. Pernah juga jam 4 sore Harsya tiba-tiba azan serius banget…. saya udah tahu ini pasti ada maksudnya. Selesai azan Harsya lari berteriak ‘bukaaaa…….!’ Hahahaha…. Tingkah lucu Harsya bikin stress bunda hilang.

Minggu ketiga Ramadhan.
Ah...kami sudah harus berangkat ke Singapore lagi. Menjalankan ibadah puasa di negeri orang memang tidak enak, apalagi di Singapore kami tidak pernah mendengar suara adzan sama sekali. Suasana Ramadhan sama sekali tidak terasa. Saya sahur sendirian hanya dengan makanan instant dan roti saja. Untunglah dekat tempat kami menginap ada sebuah mesjid besar yang bagus. Namanya masjid Al-Falah.

Saat berbuka disana disuguhkan kurma, buah-buahan, susu, dan makanan lengkap (waktu itu nasi briyani lengkap dengan daging kare).
Nikmat sekali rasanya berbuka bersama dengan saudara-saudara seiman. Walaupun tidak saling mengenal kami makan nasi sama-sama dari nampan besar. berbagi lauk bersama. Sungguh suasana yang luar biasa.


 Walaupun ingin, sayang tidak setiap hari saya sempat berbuka disana. Malah selama seminggu di Singapore saya hanya sempat berbuka 1 kali saja disana.

Di Singapore jadwal sholat taraweh cukup malam, karena sholat isya saja baru dimulai sekitar jam 20.15, kalau dibanding Lampung dan Jakarta cukup malam juga. Dan karena kondisi tidak memungkinkan, saya tidak sholat taraweh di masjid, saya hanya sholat taraweh di apartment. Hari terakhir disana saya sudah niat akan bela-belain sholat taraweh di masjid Al Falah, sayang saya malah berhalangan. Syukurlah 10 hari terakhir ramadhan bisa kami lewatkan di tanah air bersama keluarga.

Sepuluh hari terakhir Ramadhan 
Tak sekalipun saya sempat sholat taraweh di mushola dekat rumah. Kondisi suami yang kurang sehat tidak memungkinkan. Kami hanya melaksanakan sholat taraweh dirumah saja. Sedih rasanya melihat orang berbondong-bondong melaksanakan taraweh. Suami yang biasanya rajin menjalankan sholat magrib dan isya di mushola Al-Manar dekat rumah, terpaksa kali ini tidak bisa ikut taraweh disana. Padahal saya yakin dia sangat merindukan mushola itu.

Selain ibadah yang kami rasa tidak sempurna, dan batalnya lebaran di Banda Aceh tahun ini, ada alasan lain kenapa Ramadhan kali ini menjadi Ramadhan yang sedih. Ramadhan kali ini kami lewatkan dengan penuh rasa cemas dan prihatin. Masih terngiang-ngiang vonis dokter di Singapura yang dgn tegas menusuk jantung kami. Belum lagi angka-angka belasan ribu dollar yang harus kami keluarkan untuk sekali pengobatan. Ya Allah….mampukah kami…

Akhir tahun lalu saat kami pindah ke rumah milik kami sendiri ini, saya sudah berangan-angan untuk menatanya dengan beberapa perabot baru yang rencananya akan saya wujudkan pada lebaran tahun ini. Namun sayangnya keinginan itu harus saya lupakan dulu untuk saat ini... Ada prioritas lain yang harus saya dahulukan. Saya yang sejak kecil terbiasa hidup berkecukupan, sekarang harus merasakan bagaimana rasanya hidup hemat. Harus banyak bersabar dan menahan diri. Kalau biasanya saya jor-joran membeli kue-kue kering dgn harga mahal setoplesnya untuk lebaran, kali ini cukup 3 macam dengan harga yang murah saja. Saya harus belajar prihatin, ini semua cobaan buat kami…

Ingin rasanya mengeluh...tapi banyak orang diluar sana yang saya yakin nasibnya jauh lebih buruk dari kami. Saya harus belajar lebih banyak melihat kebawah, bukan ke atas.

Dan anehnya setelah mengalami semua ini, saya baru menyadari bahwa benda-benda materi itu ternyata tidaklah terlalu penting. Memang sangat manusiawi setiap manusia tentu ingin tampil lebih, terasa menyenangkan kalau semuanya serba baru, serba wah, ... Tapi apakah kemewahan itu begitu penting?

Setelah dipikir-pikir sebenarnya saya memang tidak perlu bermewah-mewah. Memakai sepatu lama yang masih layak pun tidak menjadi masalah. Bahkan saya baru menyadari masih ada beberapa pasang sepatu yang jarang sekali saya gunakan sejak dibeli. Perabotan rumah setelah saya tata ternyata masih cukup indah dan menarik. Kue-kue lebaran yang berlimpah biasanya masih tersisa banyak setelah lebaran berlalu. Saya yang memang sengaja tidak membeli kue-kue basah karena harganya yang mahal, alhamdulilah dapat kiriman kue dari rekan kerja yang baik hati, dan beberapa lagi dari klien suami. Saya jadi menyadari kadang-kadang kita manusia memang lebih sering mengutamakan hawa nafsu. Padahal apa yang kita miliki sekarang masih cukup bagus dan layak…

Ya Allah... dibalik kesedihan Ramadhan yang kami rasakan ini saya hanya bisa berusaha bersyukur, semoga tersimpan banyak makna dan hikmah yang Engkau tunjukkan bagi kami. Amiin..

15 April 2010

It’s really not easy being a working mom


“Ya Allah, berikanlah aku kemudahan dalam menjalankan tugasku menjadi seorang ibu, istri dan karyawan”.

Saya tuliskan kalimat diatas pada status facebook saya kemarin. Bukan sekedar do’a,  tapi lebih pengungkapan emosi.  Emosi bukan karena  saya  marah, tapi karena saya merasa sedih, kecewa dan sedikit tidak berdaya.

Saat menemani Harsya tes akademik kemarin, saya menerima belasan missed call di Hp yang mencari saya karena ada meeting dadakan.  Saya sama sekali tidak melihat Hp karena konsentrasi dengan test akademik Harsya.  Lagipula saya pikir saya sudah minta ijin dari kantor jadi saya yakin mereka tidak akan mencari-cari saya.

Dalam kondisi seperti ini saya merasa sangat tidak berdaya. Di satu sisi saya ingin menjalani peran saya sebagai seorang ibu ,mendampingi  Harsya menjalani hari pentingnya .  Saya tau pasti Harsya really need me in this situation. Harsya sangat mengandalkan saya.  Kehadiran Bundanya is everything for him.
Namun di sisi lainnya saya tahu bagaimanapun saya harus bersikap profesional.  Meskipun saya sudah meminta ijin, namun saya juga tidak bisa bersikap semaunya. 

Untungnya saya masih sempat mengikuti meeting dadakan tersebut walaupun harus terburu-buru dan sedikit panik.  Saya sampai menangis lho…saking stressnya :-(

Alhamdulilah.. Harsya sudah selesai menjalani test akademiknya.  Dia tidak tahu kalau hari itu bundanya  mengalami stress dadakan..

Its really not easy being a working mom… yes it is !