Ini cerita 3 hari
menjelang lebaran Idul Fitri 2012 lalu
Harsya jatuh dari sepeda lagi… dan hiks… tangannya patah
lagi. Huaaaa…..
Salah apa ya bunda sebagai ibu…? Baru maret 2012 lalu Harsya operasi angkat pen untuk tangannya yang dioperasi karena patah juga akibat jatuh dari sepeda Juli 2011 lalu. rasanya saya yakin Harsya
nggak pernah ngebut kalau naik sepeda, malah Harsya termasuk paling hati-hati dibanding sepupu-sepupunya yang lain. Dia hanya kurang perhitungan dan apes. Dia
menghindar dari menabrak mobil tetangga yang sedang diparkir (ya, sedang
parkir, agak menjorok ke jalan) Dan dia
memilih mengerem sepedanya mendadak karena takut menabrak mobil tersebut dan
membuatnya penyok. Dan saya pun baru tahu kalau Harsya selama ini lebih banyak menggunakan rem kanan (ban depan) karena rem kirinya agak keras, pantas saja dia gampang terjungkal :-(
Kamis 16 Agustus, saya lagi di mal saat itu, ngebut belanja persiapan lebaran. Kantor memberi
dispensasi pulang lebih awal menyambut libur lebaran, jadi saya putuskan
mencari baju muslim untuk Harsya dan Syifa untuk sholat Ied. Baru beberapa waktu belanja, saya cek HP ada belasan miss call dari nomor
Harsya, Syifa dan juga mbak… Rupanya
saya lupa merubah profile Hp dari silent
kembali normal saat selesai sholat dhuhur tadi.
Perasaan hati langsung gak enak, kayaknya urgent banget
sampe belasan miss call nya… benar aja… ternyata dapat kabar Harsya jatuh dari
sepeda. Tangannya sakit dan agak bengkak katanya. Terdengar Harsya menangis di telpon, tapi
masih bisa bicara dengan saya.
“Tanya mbak aja Bun…
mbak yang tau” jawab Harsya sambil sedikit
menangis, saat saya tanyakan kondisinya.
“ Sepertinya
patah Bun, karena bentuknya agak beda
dengan tangan kanannya” Kata Mbak.
“Ya Allah….. lelah
dengan semua iniii…” Pengen jerit
dalam hati. Tapi saya tetap berusaha
tenang and mencoba berpikir jernih. Ya Allah, semoga hanya terkilir saja..
Saya bayar belanjaan
ke kasir dengan terburu-buru (tadinya sempat berpikir untuk tinggalin aja semua
tapi akhirnya memutuskan menuju kasir juga karena toh tinggal bayar saja).
Setelah itu saya langsung menuju parkiran.
Sebelumnya saya juga sudah menghubungi Bang Deni, kakak sepupu yg rumahnya kami sewa,
untuk minta tolong cek kondisi Harsya sebelum bunda tiba dirumah. Selama di perjalanan saya beberapa kali
menelpon kondisi Harsya, menurut bang Deni kelihatannya hanya terkilir saja
tapi nanti sebaiknya saya liat sendiri (dan ternyata itu hanya white lie supaya saya tidak panik dan
terburu-buru menyetir ke rumah). Terdengar di belakang Harsya menangis saat
lukanya diberi betadine.
Tiba dirumah…
Harsya terduduk di sofa. Saya cek kondisinya, Ya..
tangannya agak bengkak dan kelihatan sedikit bengkok… :-)
Kami putuskan membawa Harsya ke dukun urut di dekat sini, kebetulan bang Deni tahu lokasinya.
Harsya menahan tangis saat menuju ke dukun urut. Harsya menangis krn lututnya yg luka terasa pedih
Tiba disana, melihat tangan Harsya, dukun urut bilang " Ini patah, bu..." deg...
'" Bukan terkilir aja ya bang? tanya saya berharap
" Lihat bentuknya sih patah bu" duh... lemes rasanya...
" Bisa diperbaiki aja bang, tanpa operasi?"
" Ya,kalau di operasi bisa berbekas lagi seperti ini bu" katanya sambil menunjuk bekas sayatan operasi harsya yang membentuk keloid.
Dukun urut meminyaki tangan harsya dan mempersiapkan kayu, kapas dan kain utk membebat tanganya. "wah..langsung dibebat nih? pikir saya dalam hati. Harsya keliatan ketakutan dan saya stress juga membayangkan tangan Harsya akan ditarik. Dan saya pun masih ragu-ragu apa ini cara terbaik.... ?
"Bang, apa gak di rontgen dulu aja ya bang ?" sela saya
"Boleh juga bu, kalau mau lebih pasti. Nanti kalau udah di bebat nggak bisa di buka-buka lagi, di tempat rontgen pun juga dibuka lagi sama mereka nanti."
OK lah...saya memutuskan untuk rontgen dulu, sebelum melakukan tindakan apapun untuk Harsya. saya teringat pasien anak-anak yang datang ke tempat praktek dokter orthopedi Harsya dulu di Lampung dlm kondisi tumbuh tulang baru yang bengkok di pergelangan tangannya sebulan dibebat di dukun urut. Alhasil akhirnya harus dioperasi juga. Oh no...

;
Tangan Harsya yg kelihatan sedikit bengkok, ini setelah diminyaki oleh dukun urut, sehingga di foto ini kelihatan sangat bengkok krn efek minyak
Meluncurlah kami ke RS. Bunda Thamrin di Jl. Gajah Mada. Bang Deni sempat menawarkan menggantikan saya menyetir mobil karena khawatir saya dalam kondisi panik. Alhamdulilah..I'm not panic at all... Melihat Harsya masih bisa komunikasi dan duduk manis di sebelah saya, itu sudah cukup membuat saya merasa tenang.
Harsya di ruang tunggu Lab RS menunggu giliran rontgen
Harsya di rontgen
Hasil rontgen betul, tangan harsya patah, bukan sekedar terkilir. Tapi patahnya memang tidak separah setahun lalu saat di siku. Jadi saya berharap mudah-mudahan bisa di gips aja tanpa perlu operasi. Duuh....jangan sampe deh operasi lagiii....
Sempat galau mau kembali ke dukun patah atau ke dokter orthopedi ya... Kalau cuma terkilir aja mungkin saya berani ke dukun patah saja. Tapi karena hasil rontgen benar patah, saya putuskan ke dokter orthopedi.
Kami meluncur ke Jl. Sekip, tempat praktek dokter orthopedi yang masih ada hubungan saudara dengan kakak ipar saya, beliau juga ternyata teman sekolah masa SMP mama.
Tiba disana, saat saya tanya apakah bisa di gips saja tanpa operasi, beliau mengukur jarak patahan melalui foto rontgen dan akhirnya mengatakan, "Bisa". Alhamdulilaaahh......legaaa..... no more operation. Alhamdulilaah...... terima kasih ya Allah....
Jadilah akhirnya Harsya pasang gips langsung saat itu juga. Kasian Harsya harus lebaran dengan tangan di gips...nasib..nasib.... tapi nggak papa ya nak, daripada lebaran di rumah sakit karena harus operasi. duuh.. jangan sampe deh.
Harsya saat di pasang gips. sempat nangis dan bete karena kena omel dokter yang agak sedikit galak (becanda sih galaknya pak Dokter, tapi cukup bikin Harsya kesel). Karena dia nggk boleh melirik ke arah gips yang sedang dipasang. Poor Harsya... :-(
Saya sempat tanya apakah tangannya yang bengkok/miring tidak diperbaiki dulu posisinya sebelum di gips? sang dokter malah becanda soal pengucapan kata miring yang saya sebut mereng. Duuh...padahal kan mau ikutan bicara pakai gaya medan dok, hehe....akhirnya malah saya jadi malas nanya-nanya lebih lanjut deh. Ya wis lah..berdoa saja ya Nak.. Bismillah...semoga hasilnya baik. Saya pun udah cukup stress membayangkan operasi, jadi gips saja oke lah untuk sekarang. Percaya saja sama pak Dokter deh. Oh ya, Beliau berbaik hati memberikan diskon 50% karena masih ada hubungan saudara, Alhamdulilah.. makasih ya Dok:-)
Saya membayar biaya dokter dengan mengeluarkan lembaran-lembaran merah mulus dan wangi karena baru saja beberapa saat sebelum ke mal saya menukar uang ke bank untuk angpau :-)
Namanya musibah ya...bisa terjadi kapan saja, dimana saja....Bismillahirohmanirrahim.... Ya Allah, tapi saya berharap semoga tidak ada lagi kejadian-kejadian seperti ini lagi. Amiiiin......
Harsya udah ceria lagi (ini foto seminggu setelahnya) Alhamdulilah.... :-)