23 September 2010

Ditraktir Harsya Pizza!

Hmm…yummy! hari ini bunda ditraktir pizza nih sama Acha

Awalnya Harsya minta di orderin Pizza, tapi kebetulan bunda pulang kantor tadi lupa nggak ambil uang di ATM padahal isi dompet tinggal beberapa lembar untuk belanja besok, dan bunda juga capeek… banget kalau harus keluar rumah dan nyetir mobil untuk ke ATM lagi.

“Duh…Bunda lagi nggak ada duit Cha, bunda lupa ambil uang di ATM tadi, coba tanya ayah.

Hmm...rupanya ayah juga sama, lupa ke ATM!

Tiba-tiba “Bun, kan ada uang THR Acha Bun di dompet. pake itu aja” kata Harsya
“Lho, itu kan buat beli NDS Cha? nanti duitnya kurang buat beli NDS”

Harsya diam, wajahnya mikiir…menimbang2
“Nggak papa deh Bun, Harsya juga nggk terlalu suka NDS, Acha mau beli pizza aja”
duueng…dueeng….dasar Acha gembul, dia lebih milih Pizza daripada NDS! hahahaha…… !

Jadilah Bunda ditraktir Pizza hari ini sama Acha. makasih ya Cha…
waktu disinggung ‘ini pizza Acha yang beliin lho…’ hmm..wajahnya senyum-senyum bangga!

Note: NDS adalah Nintendo DS.permainan game seperti game watch  

22 September 2010

Ramadhan yang sedih...

Ramadhan tahun ini bagi saya sangat berbeda..

Ramadhan tahun ini kami lewati dengan perasaan tak menentu.. Rencana melewatkan lebaran Idul Fitri di kampung halaman tercinta Banda Aceh pun batal.

Biasanya setiap kali memasuki bulan Ramadhan, malam taraweh pertama menjadi moment yang tak ingin dilewatkan oleh siapapun, termasuk saya dan suami.. Tapi malam itu kami lewatkan dengan perjalanan tergopoh-gopoh dari Mount Elizabeth Hospital menuju Changi airport di Singapore untuk mengejar flight terakhir ke Jakarta.

Kami tiba di Cengkareng pukul 11 malam dan baru sampai di rumah kakak ipar saya di daerah cibubur sekitar jam 1 pagi. Saya sendiri baru bisa tidur sejam setelahnya karena harus memilah-milah isi koper lagi, besok saya langsung mengikuti training selama 3 hari di Jakarta.

11 Agustus 2010. Sahur pertama…hmm...saya teringat dengan Harsya..
Rencananya tahun ini Harsya mulai puasa full sehari penuh. Kasihan membayangkan Harsya harus merasakan sahur pertamanya di Ramadhan tahun ini tanpa ayah dan bunda.

Selepas sahur, suami langsung menuju Cengkareng utk perjalanan ke Lampung dgn flight pagi, sedangkan saya langsung menuju kantor untuk training. Tidur hanya 2 jam membuat mata saya susah sekali diajak bekerja sama. Capek dan lelah…. Bukan hanya fisik, terutama hati. Terbayang hari2 ke depan yang akan kami lewati.. .. Ya Allah..… mampukah kami….

Sahur kedua, ketiga dan ke empat saya lewatkan di hotel...
Ramadhan hari ke empat baru saya bisa merasakan berbuka bersama keluarga di Lampung. Ah..senangnya, walaupun masih di rumah mertua, karena Harsya dan Syifa selama ditinggal ke Singapore kami titipkan di rumah neneknya. Kami sengaja tidak buru-buru pulang ke rumah sendiri, agar bisa sekaligus menemani mama mertua, karena baru Ramadhan tahun ini kami tidak berpuasa bersama mama karena sudah menempati rumah sendiri akhir tahun lalu.

Minggu ke dua Ramadhan.
Alhamdulilah.. akhirnya bisa merasakan sahur dan berbuka di rumah. Ramadhan kali ini Harsya sudah full puasa sampai magrib. Harsya puasanya pinter, tidak pernah merengek. Tapi suka usil minta disuapin kue atau makanan sama Syifa. Sengaja menunggu reaksi bunda negur, lalu ketawa terbahak-bahak. Pernah juga jam 4 sore Harsya tiba-tiba azan serius banget…. saya udah tahu ini pasti ada maksudnya. Selesai azan Harsya lari berteriak ‘bukaaaa…….!’ Hahahaha…. Tingkah lucu Harsya bikin stress bunda hilang.

Minggu ketiga Ramadhan.
Ah...kami sudah harus berangkat ke Singapore lagi. Menjalankan ibadah puasa di negeri orang memang tidak enak, apalagi di Singapore kami tidak pernah mendengar suara adzan sama sekali. Suasana Ramadhan sama sekali tidak terasa. Saya sahur sendirian hanya dengan makanan instant dan roti saja. Untunglah dekat tempat kami menginap ada sebuah mesjid besar yang bagus. Namanya masjid Al-Falah.

Saat berbuka disana disuguhkan kurma, buah-buahan, susu, dan makanan lengkap (waktu itu nasi briyani lengkap dengan daging kare).
Nikmat sekali rasanya berbuka bersama dengan saudara-saudara seiman. Walaupun tidak saling mengenal kami makan nasi sama-sama dari nampan besar. berbagi lauk bersama. Sungguh suasana yang luar biasa.


 Walaupun ingin, sayang tidak setiap hari saya sempat berbuka disana. Malah selama seminggu di Singapore saya hanya sempat berbuka 1 kali saja disana.

Di Singapore jadwal sholat taraweh cukup malam, karena sholat isya saja baru dimulai sekitar jam 20.15, kalau dibanding Lampung dan Jakarta cukup malam juga. Dan karena kondisi tidak memungkinkan, saya tidak sholat taraweh di masjid, saya hanya sholat taraweh di apartment. Hari terakhir disana saya sudah niat akan bela-belain sholat taraweh di masjid Al Falah, sayang saya malah berhalangan. Syukurlah 10 hari terakhir ramadhan bisa kami lewatkan di tanah air bersama keluarga.

Sepuluh hari terakhir Ramadhan 
Tak sekalipun saya sempat sholat taraweh di mushola dekat rumah. Kondisi suami yang kurang sehat tidak memungkinkan. Kami hanya melaksanakan sholat taraweh dirumah saja. Sedih rasanya melihat orang berbondong-bondong melaksanakan taraweh. Suami yang biasanya rajin menjalankan sholat magrib dan isya di mushola Al-Manar dekat rumah, terpaksa kali ini tidak bisa ikut taraweh disana. Padahal saya yakin dia sangat merindukan mushola itu.

Selain ibadah yang kami rasa tidak sempurna, dan batalnya lebaran di Banda Aceh tahun ini, ada alasan lain kenapa Ramadhan kali ini menjadi Ramadhan yang sedih. Ramadhan kali ini kami lewatkan dengan penuh rasa cemas dan prihatin. Masih terngiang-ngiang vonis dokter di Singapura yang dgn tegas menusuk jantung kami. Belum lagi angka-angka belasan ribu dollar yang harus kami keluarkan untuk sekali pengobatan. Ya Allah….mampukah kami…

Akhir tahun lalu saat kami pindah ke rumah milik kami sendiri ini, saya sudah berangan-angan untuk menatanya dengan beberapa perabot baru yang rencananya akan saya wujudkan pada lebaran tahun ini. Namun sayangnya keinginan itu harus saya lupakan dulu untuk saat ini... Ada prioritas lain yang harus saya dahulukan. Saya yang sejak kecil terbiasa hidup berkecukupan, sekarang harus merasakan bagaimana rasanya hidup hemat. Harus banyak bersabar dan menahan diri. Kalau biasanya saya jor-joran membeli kue-kue kering dgn harga mahal setoplesnya untuk lebaran, kali ini cukup 3 macam dengan harga yang murah saja. Saya harus belajar prihatin, ini semua cobaan buat kami…

Ingin rasanya mengeluh...tapi banyak orang diluar sana yang saya yakin nasibnya jauh lebih buruk dari kami. Saya harus belajar lebih banyak melihat kebawah, bukan ke atas.

Dan anehnya setelah mengalami semua ini, saya baru menyadari bahwa benda-benda materi itu ternyata tidaklah terlalu penting. Memang sangat manusiawi setiap manusia tentu ingin tampil lebih, terasa menyenangkan kalau semuanya serba baru, serba wah, ... Tapi apakah kemewahan itu begitu penting?

Setelah dipikir-pikir sebenarnya saya memang tidak perlu bermewah-mewah. Memakai sepatu lama yang masih layak pun tidak menjadi masalah. Bahkan saya baru menyadari masih ada beberapa pasang sepatu yang jarang sekali saya gunakan sejak dibeli. Perabotan rumah setelah saya tata ternyata masih cukup indah dan menarik. Kue-kue lebaran yang berlimpah biasanya masih tersisa banyak setelah lebaran berlalu. Saya yang memang sengaja tidak membeli kue-kue basah karena harganya yang mahal, alhamdulilah dapat kiriman kue dari rekan kerja yang baik hati, dan beberapa lagi dari klien suami. Saya jadi menyadari kadang-kadang kita manusia memang lebih sering mengutamakan hawa nafsu. Padahal apa yang kita miliki sekarang masih cukup bagus dan layak…

Ya Allah... dibalik kesedihan Ramadhan yang kami rasakan ini saya hanya bisa berusaha bersyukur, semoga tersimpan banyak makna dan hikmah yang Engkau tunjukkan bagi kami. Amiin..

26 April 2010

Salah Kaprah?

Ada yang menarik saat saya mengikuti pertemuan antara orang tua calon murid dan sekolah dlm rangka sosialisasi psikotest sbg salah satu syarat penerimaan murid di SD yang akan Harsya masuki. Sebelum mengikuti Psikotest , salah satu tes yang harus dilalui adalah tes akademik, yaitu meliputi tes membaca, menulis, berhitung dan bahasa Inggris. Dimana nilai rata2 untuk ke 4 tes ini haruslah minimal 75.

Yang menarik saat pihak sekolah mengatakan bahwa sebenarnya untuk tahap TK tidak ada kurikulum dimana harus diajarkan membaca, menulis dan berhitung,



karena yang namanya TK adalah tempat bermain. Salah kaprah itu kalau lulus TK anak diwajibkan sudah bisa membaca, menulis dan berhitung. Sudah salah besar pendidikan kita ini…..begitu kata beliau, persis seperti sebuah tulisan seorang praktisi pendidikan di salah satu harian yang pernah saya baca, dimana sebenarnya fungsi TK adalah sesuai namanya : Taman Kanak-kanak, artinya tempat bermain dan bersenang-senang. Di TK tidak seharusnya ada kurikulum pelajaran membaca, menulis atau berhitung. Kalaupun ada mungkin fungsinya hanya pengenalan huruf-huruf dan angka-angka saja.

Lalu dimanakah seharusnya anak belajar membaca, menulis dan berhitung?
Jawabannya tentu saja di Sekolah Dasar. Lalu bagaimana kalau untuk persyaratan masuk ke Sekolah Dasar saja harus melalui tes membaca, berhitung dan menulis?

Pihak sekolah tadi menyampaikan, bukan kami mengharuskan syarat masuk SD harus bisa membaca,menulis dan berhitung, tetapi TK-TK sekarang semua sdh mengajarkan membaca, menulis dan berhitung, lalu kalau kami diberikan pilihan untuk memilih anak didik mana yang akan masuk ke sekolah kami, tentu kami pilih yang terbaik kan? , ya salah satunya yang sudah bisa membaca,menulis dan berhitung. Jadi bukan kami yang minta, tapi karena seleksi harus ada, maka membaca, menulis dan berhitung adalah salah satu bentuk seleksi kami untuk memilih yang terbaik.

Wah…jadi membingungkan ya…?

Apa bukan sebaliknya karena semua SD memberikan syarat calon anak didik yang masuk ke SD nya harus sudah bisa membaca, menulis dan berhitung maka para guru TK berlomba-lomba mengajarkan anak didik mereka membaca menulis dan berhitung?

Seharusnya kalau tidak mau system pendidikan kita ini makin salah kaprah, setiap SD tidak boleh menjadikan kemampuan membaca,menulis dan berhitung menjadi salah satu syarat penerimaan di sekolahnya bukan? Otomatis bila syarat itu tidak ada, maka pasti TK-TK juga tidak akan memaksakan kurikulum bisa membaca, menulis dan berhitung di TK mereka.

Yang terjadi sekarang, kalaupun di TK anak-anak tidak diajarkan kemampuan membaca, menulis dan berhitung (dimana seharusnya hal ini benar dan tidak salah kaprah), tetapi konsekuensinya anak-anak tersebut harus mengikuti les diluar sekolah khusus membaca, menulis dan berhitung agar bisa lolos tes akademik masuk ke SD.

Yang akhirnya menjadi korban adalah anak-anak kita, masa-masa di TK yang seharusnya diisi dengan bermain dan bersenang-senang, harus mereka lewati dengan tugas-tugas berat dan les-les tambahan.. Bukan hanya anak yang stress tapi juga orang tua yang harus mengeluarkan biaya ekstra.

Jadi….kalau sudah begini siapa yang salah kaprah ya?

15 April 2010

It’s really not easy being a working mom


“Ya Allah, berikanlah aku kemudahan dalam menjalankan tugasku menjadi seorang ibu, istri dan karyawan”.

Saya tuliskan kalimat diatas pada status facebook saya kemarin. Bukan sekedar do’a,  tapi lebih pengungkapan emosi.  Emosi bukan karena  saya  marah, tapi karena saya merasa sedih, kecewa dan sedikit tidak berdaya.

Saat menemani Harsya tes akademik kemarin, saya menerima belasan missed call di Hp yang mencari saya karena ada meeting dadakan.  Saya sama sekali tidak melihat Hp karena konsentrasi dengan test akademik Harsya.  Lagipula saya pikir saya sudah minta ijin dari kantor jadi saya yakin mereka tidak akan mencari-cari saya.

Dalam kondisi seperti ini saya merasa sangat tidak berdaya. Di satu sisi saya ingin menjalani peran saya sebagai seorang ibu ,mendampingi  Harsya menjalani hari pentingnya .  Saya tau pasti Harsya really need me in this situation. Harsya sangat mengandalkan saya.  Kehadiran Bundanya is everything for him.
Namun di sisi lainnya saya tahu bagaimanapun saya harus bersikap profesional.  Meskipun saya sudah meminta ijin, namun saya juga tidak bisa bersikap semaunya. 

Untungnya saya masih sempat mengikuti meeting dadakan tersebut walaupun harus terburu-buru dan sedikit panik.  Saya sampai menangis lho…saking stressnya :-(

Alhamdulilah.. Harsya sudah selesai menjalani test akademiknya.  Dia tidak tahu kalau hari itu bundanya  mengalami stress dadakan..

Its really not easy being a working mom… yes it is !