23 Juni 2009

Berpikir Positif

Sebuah kisah nyata..., Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan & kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapih, bersih & teratur dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu. Cuma ada satu masalah, ibu yg pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki dirumah, hal ini mudah sekali terjadi terjadi dan menyiksanya. Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya.

Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum & berkata kepada sang ibu..

Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan "Ibu itu kemudian menutup matanya. "Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?" Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yg murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya. Virginia Satir melanjutkan,
:"

17 Juni 2009

Pertanyaan-pertanyaan Harsya

Sejak Harsya mulai beranjak besar, banyak pertanyaan2 polos yg dilontarkan kpd ayah dan bunda. kadang2 pertanyaan yg sama diulang bbrp kali. Kadang terdengar begitu lucu walaupun dilontarkan dgn begitu serius.

Ayah dan bunda berkomitmen utk selalu menjawab pertanyaan Harsya seremeh atau seberat apapun. Bunda nggk mau rasa ingin tahunya lama2 hilang karena ayah bundanya tidak merespon pertanyaannya dgn baik. Bukankah dengan bertanya anak belajar ttg dunianya?

Sering Ayah bunda kewalahan menjawab pertanyaan Harsya yg kemudian dibalas dgn pertanyaan, pertanyaan dan pertanyaan berikutnya..... biasanya bunda akan terus menjawab sampai pertanyaan terakhir dan diakhiri dgn ucapan khas dari Harsya ”Ooo......”
nah itu tanda pertanyaannya sudah terjawab semua :-)

Tapi bukan sekali dua kali bunda kesal jg dgn pertanyaan2 Harsya, sering begitu spontannya dikeluarkan saat bunda sdg repot melakukan sesuatu, dan harsya tipe anak yg akan terus bertanya sebelum pertanyaannya terjawab...kalau sdh begini kadang2 bunda jawab singkat2 dgn ekpresi sedikit kesal...dan kalau ayah dengar pasti ayah akan menggoda ”ingat bunda....jgn sampai tidak merespon pertanyaan anak” hehe... itu wejangan bunda dulu utk ayah.

Ini sebagian dari ingatan bunda ttg pertanyaan2 lucu harsya

1. Bunda, ketinggalan jaman itu apa sih? Jaman itu udah lama? Jaman itu udah gak ada sekarang? Kalo ketinggalan jaman kita malu?



2. Bunda,knp kalau org udah mati jadi tengkorak? Di dlm badan kita ada tengkoraknya? Tengkorak yg bikin kita berdiri, jalan, lari? Tapi kenapa tengkorak itu jahat? (mm...efek nonton sinetron nih..)

3. Bunda, Siapa yg buka mata kita kalau udah pagi? Kok acha nggk dengar?
Otak kita kok tau kalo udah siang? Otak gak tidur? Otak itu dimana? Otak itu yg bukain mata kita? Perintahnya bisik2?

2. Bunda, orang barat itu apa sih..? Indonesia itu bukan barat? jakarta itu luar negri? Lampung itu indonesia? Pertanyaan ini yg akhirnya membuat bunda mengeluarkan atlas (yg memang bunda hadiahkan utk Harsya dulu) dan menjelaskan ttg pulau, laut, bumi dan negara2. dan Syifa ikut antusias menunjuk2 atlas sambil ngoceh ”ini orang barat....ini orang barat....ini orang barat” hihi..lucu sekali!

5. Tentang nyamuk
Harsya : Bunda, kenapa kalau kita tidur nyamuk nggk berani gigit kita? Karena kita dikira mati? Bunda : lho,siapa bilang nyamuk nggk gigit kita kalau lagi tidur, justru nyamuk paling suka gigitin kita kalo lagi tidur, kan kita nggak sadar kalo digigit nyamuk
Harsya: tapi kok lagunya ”kalau tidak bobo’ digigit nyamuk.......”
Bunda : Uups......

Ah….semua lontaran pertanyaan2 itu adalah saat2 yg sangat menyenangkan bagi bunda.

7 Juni 2009

Catatan Seorang Suami..

Bila malam sudah beranjak mendapati Subuh, bangunlah sejenak.
Lihatlah istri Anda yang sedang terbaring letih menemani bayi Anda.
Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirahat barang sekejap.
Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari, barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah tak ada lagi.

Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari.
Di saat Anda sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, tubuh letih istri Anda barangkali belum benar-benar menemukan kesegarannya.
Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya, membisingkan telinganya dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan pipis tak habis-habis.
Baru berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan istri Anda pula yang harus mencucinya. Di saat seperti itu, apakah yang Anda pikirkan tentang dia?

Masihkah Anda memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng?
Sementara di saat yang sama, Anda menuntut dia untuk menjadi istri yang penuh perhatian, santun dalarm bicara, lulus dalarn memilih kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai istri,termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.

Sekali lagi, masihkah Anda sampai hati mendambakan tentang seorang perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut?

28 Mei 2009

Renungan Setengah Hati..

Seorang ibu sedang menunggu antrian dikasir supermarket.
Hanya ada 3 pembeli didepannya,tetapi ia harus menunggu lama.
Rupanya sang kasir menghitung barang sambil mengobrol dengan temannya yang membungkus barang. Mereka melayani pembeli dg setengah hati.


Ketika sampai didepan kasir, si ibu bertanya 'Siapa managermu?'
Sang kasir kaget, lalu berkata,'maaf, ibu menunggu lama'.
'Tidak mengapa,' jawab ibu itu,'besok ini tdk akan terjadi lagi!'
Esok harinya sang kasir dipecat. Ia tidak tahu bahwa ibu itu adalah istri pemilik supermarket.


Pekerjaan anda mungkin tidak menarik. Tidak sesuai hobi anda, atau rutin dan menjemukan. Penghasilan pun mungkin minim. Namun, jangan jadikan itu alasan untuk bekerja sembarangan. Bagaimanapun, bisa bekerja adalah sebuah berkat dan kesempatan. Kerjakan itu dg sepenuh hati, sebagai wujud ibadah yg sejati.

Bagi yg bekerja setengah hati, pekerjaan itu beban.
Bagi yg bekerja sepenuh hati, pekerjaan itu tantangan.

(dari sebuah milis)