28 September 2012

Another Accident.... :-(


Ini  cerita 3 hari menjelang lebaran Idul Fitri 2012 lalu
Harsya jatuh dari sepeda lagi… dan hiks… tangannya patah lagi. Huaaaa…..

Salah apa ya bunda sebagai ibu…? Baru maret 2012 lalu Harsya operasi angkat pen untuk tangannya yang dioperasi karena patah juga akibat jatuh dari sepeda Juli 2011 lalu. rasanya saya yakin Harsya nggak pernah ngebut kalau naik sepeda, malah Harsya termasuk paling hati-hati dibanding sepupu-sepupunya yang lain. Dia hanya kurang perhitungan dan apes. Dia menghindar dari menabrak mobil tetangga yang sedang diparkir (ya, sedang parkir, agak menjorok ke jalan)  Dan dia memilih mengerem sepedanya mendadak karena takut menabrak mobil tersebut dan membuatnya penyok. Dan saya pun baru tahu kalau Harsya selama ini lebih banyak menggunakan rem kanan (ban depan) karena rem kirinya agak keras, pantas saja dia gampang terjungkal :-(

Kamis 16 Agustus, saya lagi di mal saat itu, ngebut belanja persiapan lebaran. Kantor memberi dispensasi pulang lebih awal menyambut libur lebaran, jadi saya putuskan mencari baju muslim untuk Harsya dan Syifa untuk sholat Ied.  Baru beberapa waktu belanja,  saya cek HP ada belasan miss call dari nomor Harsya, Syifa dan juga mbak… Rupanya saya lupa merubah profile  Hp dari silent kembali normal saat selesai sholat dhuhur tadi.

Perasaan hati langsung gak enak, kayaknya urgent banget sampe belasan miss call nya… benar aja… ternyata dapat kabar Harsya jatuh dari sepeda. Tangannya sakit dan agak bengkak katanya.  Terdengar Harsya menangis di telpon, tapi masih bisa bicara dengan saya.  

“Tanya mbak aja Bun… mbak yang tau”  jawab Harsya sambil sedikit  menangis, saat saya tanyakan kondisinya.
“ Sepertinya patah  Bun, karena bentuknya agak beda dengan tangan kanannya” Kata Mbak.
“Ya Allah….. lelah dengan semua iniii…”  Pengen jerit dalam hati.  Tapi saya tetap berusaha tenang  and mencoba berpikir jernih.  Ya Allah, semoga hanya terkilir saja..

Saya bayar belanjaan ke kasir dengan terburu-buru (tadinya sempat berpikir untuk tinggalin aja semua tapi akhirnya memutuskan menuju kasir juga karena toh tinggal bayar saja). Setelah itu saya langsung menuju parkiran.  Sebelumnya saya juga sudah menghubungi Bang Deni, kakak sepupu yg rumahnya kami sewa, untuk minta tolong cek kondisi Harsya sebelum bunda tiba dirumah.  Selama di perjalanan saya beberapa kali menelpon kondisi Harsya, menurut bang Deni kelihatannya hanya terkilir saja tapi nanti sebaiknya saya liat sendiri (dan ternyata itu hanya white lie supaya saya tidak panik dan terburu-buru menyetir ke rumah). Terdengar di belakang Harsya menangis saat lukanya diberi betadine.

Tiba dirumah…
Harsya terduduk di sofa. Saya cek kondisinya, Ya.. tangannya agak bengkak dan kelihatan sedikit bengkok…  :-)
Kami putuskan membawa Harsya ke dukun urut di dekat sini, kebetulan bang Deni tahu lokasinya. 
 Harsya menahan tangis saat menuju ke dukun urut. Harsya menangis krn lututnya yg luka terasa pedih

Tiba disana, melihat tangan Harsya, dukun urut bilang " Ini patah, bu..."  deg...
'" Bukan terkilir aja ya bang? tanya saya berharap 
" Lihat bentuknya sih patah bu"  duh... lemes rasanya... 
" Bisa diperbaiki aja bang, tanpa operasi?"
" Ya,kalau di operasi bisa berbekas lagi seperti ini bu" katanya sambil menunjuk bekas sayatan operasi harsya yang membentuk keloid. 

Dukun urut meminyaki tangan harsya  dan mempersiapkan kayu, kapas dan kain utk membebat tanganya. "wah..langsung dibebat nih? pikir saya dalam hati. Harsya keliatan ketakutan dan saya stress juga membayangkan tangan Harsya akan ditarik. Dan saya pun masih ragu-ragu apa ini cara terbaik.... ?

"Bang, apa gak di rontgen dulu aja ya bang ?"  sela saya
"Boleh juga bu, kalau mau lebih pasti. Nanti kalau udah di bebat nggak bisa di buka-buka lagi, di tempat rontgen pun juga dibuka lagi sama mereka nanti."

OK lah...saya memutuskan untuk rontgen dulu, sebelum melakukan tindakan apapun untuk Harsya. saya teringat pasien anak-anak yang datang ke tempat praktek dokter orthopedi Harsya dulu di Lampung dlm kondisi  tumbuh tulang baru yang bengkok di pergelangan tangannya sebulan dibebat di dukun urut. Alhasil akhirnya harus dioperasi juga.  Oh no...
;
Tangan Harsya yg kelihatan sedikit bengkok, ini setelah diminyaki oleh dukun urut, sehingga di foto ini kelihatan sangat bengkok krn efek minyak

Meluncurlah kami ke RS. Bunda Thamrin di Jl. Gajah Mada. Bang Deni sempat menawarkan menggantikan saya menyetir mobil karena khawatir saya dalam kondisi panik. Alhamdulilah..I'm not panic at all... Melihat Harsya masih bisa komunikasi dan duduk manis di sebelah saya, itu sudah cukup membuat saya merasa tenang.
Harsya di ruang tunggu Lab RS menunggu giliran rontgen
 Harsya di rontgen


Hasil rontgen betul, tangan harsya patah, bukan sekedar terkilir. Tapi patahnya memang tidak separah setahun lalu saat di siku. Jadi saya berharap mudah-mudahan bisa di gips aja tanpa perlu operasi. Duuh....jangan sampe deh operasi lagiii.... 

Sempat galau mau kembali ke dukun patah atau ke dokter orthopedi ya... Kalau cuma terkilir aja mungkin saya berani ke dukun patah saja. Tapi karena hasil rontgen benar patah, saya putuskan ke dokter orthopedi.

Kami meluncur ke Jl. Sekip, tempat praktek dokter orthopedi yang masih ada hubungan saudara dengan kakak ipar saya, beliau juga ternyata teman sekolah masa SMP mama.  

Tiba disana, saat saya tanya apakah bisa di gips saja tanpa operasi, beliau mengukur jarak patahan melalui foto rontgen dan akhirnya mengatakan, "Bisa". Alhamdulilaaahh......legaaa..... no more operation. Alhamdulilaah...... terima kasih ya Allah.... 

Jadilah akhirnya Harsya pasang gips langsung saat itu juga. Kasian Harsya harus lebaran dengan tangan di gips...nasib..nasib.... tapi nggak papa ya nak, daripada lebaran di rumah sakit karena harus operasi. duuh.. jangan sampe deh.

Harsya saat di pasang gips. sempat nangis dan bete karena kena omel dokter yang agak sedikit galak (becanda sih galaknya pak Dokter, tapi cukup bikin Harsya kesel). Karena dia nggk boleh melirik ke arah gips yang sedang dipasang. Poor Harsya... :-( 

Saya sempat tanya apakah tangannya yang bengkok/miring tidak diperbaiki dulu posisinya sebelum di gips? sang dokter malah becanda soal pengucapan kata miring yang saya sebut mereng. Duuh...padahal kan mau ikutan bicara pakai gaya medan dok, hehe....akhirnya malah saya jadi malas nanya-nanya lebih lanjut deh. Ya wis lah..berdoa saja ya Nak.. Bismillah...semoga hasilnya baik. Saya pun udah cukup stress membayangkan operasi, jadi gips saja oke lah untuk sekarang. Percaya saja sama pak Dokter deh. Oh ya, Beliau berbaik hati memberikan diskon 50% karena masih ada hubungan saudara, Alhamdulilah.. makasih ya Dok:-)

Saya membayar biaya dokter dengan mengeluarkan lembaran-lembaran merah mulus dan wangi karena baru saja beberapa saat sebelum ke mal saya menukar uang ke bank untuk angpau :-) 

Namanya musibah ya...bisa terjadi kapan saja, dimana saja....Bismillahirohmanirrahim.... Ya Allah, tapi saya berharap semoga tidak ada lagi kejadian-kejadian seperti ini lagi.  Amiiiin......

Harsya udah ceria lagi (ini foto seminggu setelahnya) Alhamdulilah.... :-)

26 September 2012

Do'a untuk Abi

Setelah melewati minggu-minggu yang berat, I feel so exhausted! Lelah luar biasa. Saya masih merasakan perbedaan besar perubahan hidup saya dari comfort zone ke uncomfort zone. Udah rencana hari ini mau 'nyampah' disini ngeluarin unek-unek and beban di hati... Nggak peduli kalau isi blog saya kali ini bukan sesuatu yang positif. Hm..I don't care. Hanya perlu berkeluh kesah sebentaaar... aja biar lega.

Tapi, melewati jalan menuju kantor, lihat ibu-ibu dan bapak-bapak tukang sapu jalanan yang pagi-pagi udah cari nafkah, lihat tukang koran, lihat pengemis, tukang becak, pengendara motor, sopir angkot.... rasanya malu mau mengeluh....tarik nafas dalam-dalam....

Ya Allah, malu mengeluh sama yang hidupnya lebih susah.... Apa sih kesusahan saya. cuma karena merasa jauh dari keluarga besar? Stress karena anak-anak menuntut perhatian penuh padahal saya super capek bolak balik nyetir rumah-kantor-rumah?  Merasa super sibuk dan nggak sanggup mikir karena semua harus saya yang memutuskan, saya yang menjalankan, saya yang membereskan? 

Tiba di kantor masih sedikit merasa tetap perlu melempar uneg-uneg.. walopun nggak se-ekstrim tadi.
sampai tiba-tiba saya baca email mengenai link ini : 


Abi, bangun, Nak... 


SEKITAR semingguan yang lalu saya mendapat BBM dari Nuli bahwa ada seorang anak yang sudah sebulan lebih koma di RS UKI. Ia bertanya apakah saya ingin menitip sumbangan. Saya tidak sempat balas karena saat itu sedang meeting. Namun dalam hati saya sudah niatkan membantu. Dan saya, seperti biasa, berusaha menepati janji. Berjanji tandanya sudah mengirim sebagian jiwa kita ke tujuan itu. Begitu kata orang bijak. Dan niat, Teman, meski dalam hati adalah janji :)

Akhirnya kemarin saya sempat mengunjungi anak itu. Jam 3 saya janjian dengan Mbak Tri, mama anak tersebut. Pertama kali melihat Mbak Tri dan Mas Sudiro, saya bisa melihat melihat jelas kesedihan di mata mereka. Namun bercampur dengan ketabahan, syukur, dan kepasrahan. Dari awal, hati saya dipenuhi rasa kagum terhadap pasangan ini.

Mbak Tri bercerita bahwa jagoannya berumur 10 tahun, dan bernama Abi, singkatan dari Abimanyu. Nama lengkapnya Israq Abimanyu.
dst (silahkan buka link nya ya..)
Ya Allah...hilang semua perasaan tidak berdaya saya. Baca cerita tentang Abi, sedih sekali.... Melihat sosok Abi mengingatkan saya dengan Harsya. Usianya pun tidak beda jauh... Ya Allah..  Saya menyesal harus emosi dan marah dengan anak-anak hanya karena mereka manja dan membuat saya sangat repot. Sungguh saya masih harus belajar lebih banyak lagi untuk bersyukur... Saya harus banyak bersabar menjaga titipanMu ya Allah...

Saya pernah di posisi ibunya Abi, saat alm. suami juga mengalami operasi yang sama persis. Tumor di otak. Tapi saya masih lebih beruntung waktu itu karena operasi ayah berhasil, walaupun bertahun kemudian ayah harus menyerah juga dengan penyakitnya. Saya nggak bisa membayangkan bagaimana remuk redamnya perasaaan ibu Abi melihat anak tersayangnya terbaring koma... Sungguh ini adalah perjuangan panjang untuk kesembuhan Abi, semoga masih ada mujizat untuk Abi, Ya Allah...sabar ya mbak Tri dan Mas Sudiro....Saya titipkan sedikit bantuan untuk Abi. Semoga Allah memberikan mujizat dan kesembuhan untuk putra tercinta... Amiin Ya Robbal Alamin....

Speechless.. :-(

1 September 2012

New Activity: Nongkrong di Car Wash

ice cappucino and mie goreng..yummy!
Akhirnya...setelah hampir sebulan sejak si "putih cantik" tiba di Medan dan gak pernah dimandiin, hari ini ada juga kesempatan mampir ke Car Wash dekat rumah.

Sebenarnya malu juga tiap ke kantor mobil berdebu and kotor gitu...mana kadang tisu penuh di karpet mobil (Harsya nih hobi uwel2 tisu). Trus satpam kantor komen "Bu, mobilnya banyak tisu, udah saya bersihkan tadi" hehe.. Makasih ya Pak... Jadi malu :p.

Kata Harsya, "Bun, bener kata om Ronny (driver di Lampung) pasti ini mobil sampe Medan nanti bakal jarang dicuci ya" ups... Memang bener banget... Bunda cuma sanggup lap pake kanebo n kemoceng doang. Tadinya udah bertekad bakal rajin cuci mobil sendiri....toh dulu di Bandung jaman kuliah jg rajin nyuci sendiri kok. Tapi begitu sampe sini, ternyata aku tak sanggup...hehe...

Setelah gagal melulu karena sibuk urusan rumah dan sepanjang libur lebaran carwash tutup, Nah.. hari ini mumpung Harsya-Syifa lagi acara Halal Bihalal di sekolah dan para ortu gak ikutan, bunda ngacir deh ke CarWash dekat rumah.

Udah siap2 bakal bete, suntuk, nggak nyaman (karena pasti banyakan bapak2nya). Dan siap2 bawa Gtab buat blogwalking and ngilangin bosen, sampe lokasi eh... Ternyata ada cafenya! Bersih dan bagus lagi, lengkap dengan AC dan TV. Senangnyaaa... Kalo gini bakal betah nongkrong disini.

Ohya, ternyata ada foot message nya juga lho..
fotonya dari cafe lantai 2 :-)

Maaf, fotonya agak gelap dan jauh takut si Bapak yg lagi asyik ngobrol kaget kena blitz hehe
Harsya Syifa pose dekat si Putih yang udah bersih :-)
ini Harsya lagi teriak: "Awas mobil Bun!" *Perhatiaan..nya my lovely Boy 
Cihuiii... Kapan-kapan ajak Harsya Syifa kesini aah!